Rumah dan material yang digunakannya punya ceritanya masing-masing. Tiang-tiang kayu ulin (sappu) yang dipakai, banyak yang merupakan daur ulang. Tiang-tiang itu, memang ada yang terlihat bolong, bekas tancap pasak. Meski kayu bekas, teaapi diakui justru lebih kuat dan tahan lama. Sebagian kayunya merupakan kayu campaga (cenrana) yang, katanya, sudah sulit didapat.
Ada juga kayu-kayu sisa tebangan pohon yang disulap jadi meja dan kursi estetik. Kayunya berasal dari pohon trembesi yang ditebang di kampus Unhas, Tamalanrea, karena dianggap menggangu tiang listrik. Ide kreatifnya langsung muncul, begitu melihat batang-batang kayu besar dari pohon yang punya nama Latin Samanea Saman atau Ki Hujan itu.
“Begitu saya lihat, langsung saya panggil tukang tebang pohonnya, saya mau ambil. Saya kasi uang tukangnya. Setelah disenso, saya bawa ke Balla Barakka. Saya bilang ke tukang di sini, jangan dikasi lurus, ikuti saja urat-urat kayunya, ternyata lebih estetik,” ungkapnya.
Saya cermati kursi dan meja yang terbuat dari pohon Trembesi itu. Paduan gradasi warna coklat dan kremnya begitu indah. Apalagi dipelitur dengan warna netral, sehingga walau tampak mengkilap tetapi tetap natural.
“Alhamdulillah, tidak banyak yang bilang ini cantik, kecuali yang punya rasa seni hehehe,” ucap Prof. Aminuddin Salle, menanggapi pujian saya bahwa meja kursinya bagus.
Pantas bila sejumlah sekolah menjadikan BBrG sebagai lokasi wisata sekaligus tempat belajar. SMA Islam Athirah, Makassar, malah beberapa datang. Begitupun dengan SMA Negeri 5 Takalar. Di lokasi BBrG ini, pernah diadakan aktivitas perkemahan selama 3-4 hari, dengan peserta mencapai 350 orang. Pada kesempatan itu, Karaeng Patoto, berorasi dan selalu menyelipkan literasi budaya di dalamnya.
BBrG telah menjadi rujukan untuk destinasi edukasi, termasuk untuk kegiatan yang terkait falsafah dan dasar negara. Pernah, pada tanggal 31 Agustus 2019, BBrG menerima kunjungan Dr. Kunthi, Tim Kajian Pembudayaan Pancasila Watimpres RI, bersama Tim Fakultas Hukum Universitas Bosowa.
Prof. Mahfud MD, ketika menjadi Ketua MK, bahkan menetapkan BBrG sebagai Desa Pancasila yang pertama di Indonesia. Sekarang, sudah terbentuk 5 Desa Pancasila, dan setiap ada pembentukan Desa Pancasila, Prof. Aminuddin Salle dan istrinya diundang.
Kunjungan pernah pula dilakukan oleh 9 hakim konstitusi, salah seorang di antaranya Prof. Aswanto, Wakil Ketua MK, asal Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan, Dr. Syahrul Yasin Limpo (periode 2008-2013 dan 2013-2018), yang akrab disapa SYL, juga ikut hadir menemani tetamu. Semua tamu dari MK plus SYL, pada hari itu diberi badik sebagai cendera mata. (*)













