Prof. Hamdar Arraiyah mengajak sejumlah penulis, akademisi, penggiat literasi, seniman dan budayawan untuk menulis esai dan puisi sebagai bentuk rasa cinta, bangga, dan penghormatan kepada ulama besar asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang telah ditetapkan sebagai pahlawan di Afrika Selatan dan Indonesia itu.
Hari itu, hadir di BBrG, selain saya, Syahril Rani, dan Amir Jaya, juga ada Prof. Hamdar Arraiyyah, Prof. Kembong Daeng, serta Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana. Selama di Balla Barakka, kami disambut dengan tulus oleh Prof. Amunuddin Salle dan istrinya, Hj. Suryana Daeng Memang, Dr. Buyung Romadhoni, selaku Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, dan Abdul Jalil. Hadir pula Muh. Hijaz Daeng Temba, merupakan keturunan langsung Tuanta Salamaka, pemilik naskah kuno Syekh Yusuf al-Makassari, sekaligus penutur sejarah yang fasih.
Karaeng Patoto bercerita bahwa BBrG ini, diresmikan oleh Sultan Sepuh, Sultan Cirebon, sebagai Ketua Umum Silaturahmi Keraton Nusantara (SKN). Bangunan induk Balla Barakka, sebelum menempati posisinya sekarang di Desa Galesong Baru, sudah dipindahkan yang ketiga kalinya. Semua struktur dan arsitektur bangunannya masih asli. Hanya sedikit bagian-bagian tertentu yang dilakukan pergantian, seperti atapnya.
“Ketika dari Katoknokang, bangunannya dibongkar, lalu dihanyutkan di sungai terus ke laut, kemudian masuk ke sungai Takbuncini yang berada di depan Balla Barrakka. Bangunanya sempat menempati lokasi di dekat Jalan Poros Galesong. Di lokasi lama ini, terlantar, lalu dibawa lagi ke sini tahun 2016. Saya bilang ke kakak, saya mau selamatkan ini,” papar Prof. Aminuddin Salle.
Kakak yang dimaksud adalah Prof. Dr. H. Kaimuddin Salle, SH, M.H Daeng Mattawang. Keduanya lahir dan dibesarkan di Balla Barakka, dari pasangan Jagong Daeng Salle dan Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin kelahiran Galesong, 2 Juli 1948.
Harapan suami Hj. Suryana Hamid, SH, MH, Daeng Memang, terdengar sederhana, seperti dirinya yang bersahaja. Namun, justru sangat substantif, terkait sejarah dan identitas kulturalnya.
“Kalau cucu saya ditanya, orang apa ki? Dia akan jawab, tu Galesong. Apa buktinya? Itu Balla Barakkaka. Nah, sekarang ada buktinya. Eh, lama-lama dikembangkan. Rupanya banyak yang tertarik,” terang Karaeng Patoto.
Tanah keluarganya berada di jalan poros, di Dusun Takbuncini. Balla Barakka juga berdiri setia di sana, sejak tahun 1936. Rumah bergaya tradisional Makassar itu, merupakan warisan orangtuanya, yang diakui sebagai keluarga sederhana.
“Bapak saya kan guru. Tapi alhamdulillah, ada juga harta-harta leluhur. Itu mi beliau bikin rumah, yang menjadi bangunan utama di sini.”
Ketika mengucapkan itu, terdengar ada rasa hormat, bercampur bangga, dan kenangan yang berkelebat pada sosok orangtuanya. Ayah Prof. Aminuddin Salle, bernama Jagong Daeng Salle, dan ibunya bernama Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin Salle merupakan keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassary, dari garis istri bernama Sitti Hafilah Johar Manikam, yang merupakan putri Sultan Indragiri.
Lokasi tanah yang sekarang, kata Karaeng Patoto, dibeli dari warga, lalu dikembangkan menjadi Kampung Adat dan Budaya BBrG. Peresmiannya dilakukan pada 14 April 2019 oleh Asisten 3 Pemprov Sulawesi Selatan, Dr. H. Tautoto Tana Ranggina, atas nama Gubernur Sulawesi Selatan bersama Sultan Sepuh XIV Prabu Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Desa Wisata dan Literasi Budaya
Balla Barakka ri Galesong merupakan satu dari 75 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sebagai desa wisata, BBrG punya ciri bukan saja berbasis adat dan budaya tetapi juga sarat nilai-nilai filosofis tentang kepemimpinan, pemerintahan, dan konstitusi. Menarinya, pesan-pesan luhur dalam bahasa dan Lontarak Makassar itu telah didigitalisasi sehingga dapat diakses dengan pemindai barcode.












