Karaeng Patoto, Balla Barakkaka, dan Akademia Plato

Saya dan Syahril Rani, bergantian memegang balok-balok yang disebut panjoli itu. Ternyata memang berat, mungkin sekira 3-4 kg.

“Dahulu, ada ungkapan, jai gauknu kuganrangko panjoli hahaha,” kata Karaeng Patoto sambil tertawa.

Saya menimpali, “Kalau dibilang lekba mi ni tunrungi panjoli, bukan saja berarti dipukul tetapi juga diusir. Tidak bakal kembali karena takut.”

“Celaka memang tong ko kalau dihantam panjoli hahaha,” kata Syahril Rani tambah ngakak.

Amir Jaya, yang bersandar di tiang rumah, sambil melipat tangannya, ikut tertawa mendengar keseruan kami membahas panjoli. Begitupun dengan Abdul Jalil, selalu tersenyum mendengar celetukan-celetukan kami dalam bahasa Makassar sehari-hari.

Hari itu, kami sengaja berkunjung ke Balla Barakka untuk bersilaturahmi dengan Prof. Aminuddin Salle terkait rencana penulisan dan penyusunan buku esai dan antologi puisi Syekh Yusuf, yang digagas Prof. Dr. H. Muhammad Hamdar Arraiyyah. Tahun 2026 ini, oleh badan PBB UNESCO, ditetapkan sebagai peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassary (UNESCO Anniversary 2026).

Prof. Hamdar Arraiyah mengajak sejumlah penulis, akademisi, penggiat literasi, seniman dan budayawan untuk menulis esai dan puisi sebagai bentuk rasa cinta, bangga, dan penghormatan kepada ulama besar asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang telah ditetapkan sebagai pahlawan di Afrika Selatan dan Indonesia itu.

BACA JUGA:  Rahman Rumaday, Punya Wawasan Dan Kemampuan Forum

Hari itu, hadir di BBrG, selain saya, Syahril Rani, dan Amir Jaya, juga ada Prof. Hamdar Arraiyyah, Prof. Kembong Daeng, serta Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana. Selama di Balla Barakka, kami disambut dengan tulus oleh Prof. Amunuddin Salle dan istrinya, Hj. Suryana Daeng Memang, Dr. Buyung Romadhoni, selaku Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, dan Abdul Jalil. Hadir pula Muh. Hijaz Daeng Temba, merupakan keturunan langsung Tuanta Salamaka, pemilik naskah kuno Syekh Yusuf al-Makassari, sekaligus penutur sejarah yang fasih.

Karaeng Patoto bercerita bahwa BBrG ini, diresmikan oleh Sultan Sepuh, Sultan Cirebon, sebagai Ketua Umum Silaturahmi Keraton Nusantara (SKN). Bangunan induk Balla Barakka, sebelum menempati posisinya sekarang di Desa Galesong Baru, sudah dipindahkan yang ketiga kalinya. Semua struktur dan arsitektur bangunannya masih asli. Hanya sedikit bagian-bagian tertentu yang dilakukan pergantian, seperti atapnya.

“Ketika dari Katoknokang, bangunannya dibongkar, lalu dihanyutkan di sungai terus ke laut, kemudian masuk ke sungai Takbuncini yang berada di depan Balla Barrakka. Bangunanya sempat menempati lokasi di dekat Jalan Poros Galesong. Di lokasi lama ini, terlantar, lalu dibawa lagi ke sini tahun 2016. Saya bilang ke kakak, saya mau selamatkan ini,” papar Prof. Aminuddin Salle.