Saya ikut tertawa, “Bahayana jangan kasih ubur-ubur, nanti saya gatal bagaimana mi.”
Kami tertawa bersama. Kadang, humor sederhana seperti itu bisa jadi sedekah yang paling ringan.
Motor Beat merahku kembali menyala, menembus padatnya jalan melaju ke titik serlok, memenuhi ajakan teman untuk ngopi.
Di jalan, saya berpikir hidup ini seperti perjalanan malam. Kadang terang, kadang gelap. Tapi sejauh apa pun kita melangkah, selalu ada cahaya yang menunggu di ujung jalan.
Macet memang, tapi saya tak tergesa. Kadang kemacetan pun mengajari kita sabar. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sabar itu cahaya.”
Mungkin, cahaya itu tidak selalu datang dari langit, kadang dari lampu rem motor di depan kita.
Sekitar 12 menit kemudian, saya tiba di titik serlok yang dimaksud. seorang laki-laki kecil mendekat, “Parkir di dalam, Pak, biar aman.” Saya menuruti, lalu melihat kedalam teman saya melambaikan tangan dari jauh pertanda dia di meja itu. Di warkop itu, suasananya hidup, ramai, ada yang bernyanyi karaoke, ada yang bermain domino, ada pula yang tenggelam dalam layar gawai di antara asap rokok yang menari di udara. Suasananya seperti mozaik kehidupan riuh, tapi hangat.
Di meja teman yang ngajak ngopi duduk bersama seorang ibu, tampak ramah saya bertama kali ketemu dan lihatnya. Belum sempat saya duduk, si ibu itu berkata, “Ayo kita makan dulu, nanti balik lagi.” Saya mengangguk, meski agak bingung.
Tiba-tiba muncul seorang pria bertubuh besar. Wajahnya familiar. Oh, itu Pak anu mantan anggota DPD-RI, dia termasuk salah satu tokoh Sulawsi Selatan yang dikenal pada masanya, yang dulu sering saya lihat fotonya di spanduk menghiasi setiap sudut dan poros kota. Ternyata dia suami dari ibu itu. Dunia memang kecil, dan Allah pandai sekali mengatur pertemuan.
Tanpa banyak basa-basi, mereka mengajak kami makan malam bersama. Saya duduk di kursi depan bersama sang sopir, sementara si ibu, suami, dan teman saya di belakang. Dalam perjalanan singkat itu, si ibu menyebut nama saya. Dalam hati saya kenapa si ibu itu bisa tahu nama saya yang akrab dipanggil?, saya menduga sepertinya saya sudah diperkenalkan oleh teman saya padanya.
“Pak Maman, bagus kalau perjalanan bapak ini dibukukan.”
Saya menoleh, sedikit kaget tapi tersenyum. “Iye’, Bu. Bisa ji.”
Kalimat itu sederhana, tapi menancap dalam. Mungkin, tanpa sadar, saya memang sedang menulis perjalanan hidup bukan di kertas, tapi di langkah-langkah kecil sehari-hari.
Kami tiba di rumah makan di daerah Kumala. Tempatnya mewah, berlampu hangat, dan beraroma wangi rempah. Saya hanya memesan air mineral, karena perut sudah penuh sejak magrib tadi.
Sambil menunggu pesanan, saya izin ke belakang untuk shalat Isya. Tidak saya bilang pada siapa pun diantara kami, hanya berjalan ke belakang mendekati seorang pelayan minta petunjuk padanya, “Mbak, mushollanya di mana ya?”
“Di belakang, sebelah kanan, Pak.” Saya mengikuti petunjuk si Mbak itu lalu saya kebelakang.
Saya shalat dalam diam. Dalam sujud, saya berbisik,
“Ya Allah, jangan biarkan aku sibuk diceritakan orang, tapi lupa menceritakan Engkau.”
Ketika saya kembali ke meja, ternyata mereka sudah pindah ke meja yang lebih besar. Hidangan menumpuk di atasnya ayam bakar, bebek bakar, sayur, dan sejumlah menu lain memadati meja. Padahal kami hanya empat orang. Saya tersenyum dalam hati, mungkin beginilah hidup para pengusaha dan pejabat, rezekinya lapang, dan rasa syukurnya pun ditunjukkan dengan berbagi makanan.
Setelah makan, kami kembali ke warkop semula. Obrolan berlanjut, kali ini lebih serius. Tentang bisnis, omset, dan jaringan. Saya yang duduk diantara mereka memilih untuk diam mendengarkan. Ada kalanya diam lebih banyak bicara daripada kata-kata.












