Hanya Guru Mengaji di Lorong

Perjalanan menuju Alauddin tidaklah mudah. Macet, asap, dan lampu jalan yang temaram membuat mata saya perih. Suara klakson bersahutan seperti orkestra tanpa konduktor.

Saya sempat berucap lirih, “Mungkin pemerintah sedang menguji kesabaran rakyatnya.”

Saya tertawa kecil di atas motor tertawa atas hidup yang kadang lucu dengan caranya sendiri.

Dalam kepadatan itu, saya teringat pesan Ali bin Abi Thalib, *_”Kesabaran dalam menghadapi kesulitan adalah seperti kepala bagi tubuh. Tanpa kepala, tubuh tak berarti.”_*

Saya menarik napas panjang. Menyusuri jalan dengan sabar, dengan pikiran yang tak ingin ikut macet.
Jalaludin Rumi pernah menulis, *_”Ketika kamu melewati jalan yang gelap, percayalah, cahaya sedang disiapkan untuk menyambutmu di ujung jalan.”_*

Saya tersenyum di balik helm. Barangkali benar bahwa lampu jalan yang redup itu pun sedang berusaha, dengan caranya sendiri, menerangi sedikit bagian dari dunia ini. Seperti manusia tak harus sempurna untuk memberi cahaya.

Sekitar 10 menit kemudian saya tiba. Rumah makan itu ramai. Suasana rumah makan itu unik. pilar-pilarnya seperti istana Arab kuno, tapi dindingnya dari anyaman bambu seperti rumah kampung. Saya duduk, menarik napas panjang setelah menembus padatnya jalan.
Di meja sudah tersaji berbagai menu, termasuk sayur bening dan cumi mereka hafal saya tidak makan nasi. Saya tersenyum kecil, merasa diperhatikan dengan cara sederhana. *_”Rezeki bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang makan bersama kita.”_*~ Ali bin Abi Thalib:

BACA JUGA:  Jika Kluivert Latih Timnas Indonesia Penonton Menikmati “Sate Rasa Keju”

“Bang Maman, ayo makan dulu baru rapat,” kata seorang teman sambil tertawa.

Kami semua tertawa. Aroma cumi dan bumbu bawang menyeruak di udara. *_“Setiap makanan adalah rahmat, setiap rasa adalah peringatan bahwa hidup masih memberi kesempatan.”_* ~Kata Jalaluddin Rumi,

Makan malam kami seperti reuni kecil. Suapan, tawa, dan obrolan ringan bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya, forum rapat dimulai. Ide-ide berseliweran, sebagian matang, sebagian masih mentah. Tapi semua keluar dari niat yang sama yakni ingin berbuat sesuatu untuk orang lain.

*_”Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera di hutan juga bekerja.”_* ~ Buya Hamka

Kalimat itu menempel di kepala. Saya ingin hidup bukan sebatas mengisi hari, tapi memberi arti.

Rapat selesai tepat ba’da Isya. ponsel saya bergetar lagi. Pesan dari seorang teman,

“Ayo, Pak Maman, ngopi di warkop teman saya.” Saya tersenyum. “Kenapa tidak?” pikir saya. Lagi pula, arah pulang sejalur.

Setelah semuanya usai, saya pamit lebih duluan. saya berjalan keluar menuju parkiran bersama dua teman. Beberapa pelayan melambaikan tangan. “Terima kasih, Kak Maman,” kata salah satu dari mereka.

BACA JUGA:  Sepertinya ada Lagi Maksud Terselubung

Teman saya menimpali sambil tertawa, “Kau ini kayak anggota dewan, banyak yang kenal.” Saya ikut tertawa kecil. “Tidak mesti jadi dewan untuk dikenal. Mungkin mereka pernah ketemu saya,” jawab saya ringan. Dalam hati saya tahu, beberapa dari mereka dulu pernah belajar mengaji di lorong bersama saya.

Tempat saya belajar arti kesederhanaan, kesabaran, dan ketulusan yang tak pernah diminta tepuk tangan. *_”Jangan pernah berharap 1000 tepuk tangan untuk mu, karena akan berbahaya jika kamu tidak mendapatkan 1 tepuk tangan”_* ~ Rahman Rumaday

Di area parkir, seorang tukang parkir meniup peluit kecil memberi tanda siaga menjaga motor kami selama kami didalam. Saya berikan uang sepuluh ribu padanya.”

Tabe’, Pak, ini kembaliannya,” katanya sopan.
“Sudah, untuk dua motor sekalian ambil mi sisanya,” jawab saya.

Dia tertawa, tanda bahagia “Ubur-ubur ikan lele, terima kasih le’,” Dia berpantun