“Habis Gelap, Terbelah-Lah Durian”

Sesekali, cahaya senter dari ponsel di tangan ibu-ibu mengarah keatas plafon, ke dinding rumah, ke sesama temannya, ibu-ibu yang menamakan dirinya ibu-ibu Rempong ini antusias dan penuh semangat dengan berbekal cahaya senter HP membaca ayat demi ayat dari kita suci yang diturun kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat jibril di gua hira diatas Jabal Nur atau biasa orang menyebutnya “gunung cahaya” Salah satu area bersejarah di Jabal Nur yaitu Gua Hira. ibu-ibu Rempong ini terus melantunkan ayat suci dari balik gelap matanya mengintip mengikuti arah cahaya bergeser mengikuti huruf demi huruf yang dibaca. Insya Allah tangan yang memegang HP menuntun cahaya dari mata HP akan bersaksi dihapan Allah kelak di hari kiamat : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” ~QS Yasin ayat 65
Demikan juga dijelaskan dalam Qur’an surat An Nur bahwa : “Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang terlebih dahulu mereka kerjakan.” ~QS An Nur ayat 24

BACA JUGA:  Mitigasi Kerawanan Sosial di Kota Makassar dalam Perspektif Ketenagakerjaan

Tidak ada alasan bagi jiwa untuk berhenti belajar, bahkan ketika hanya senter HP yang menjadi teman setia di kala listrik padam. Ruang tamu rumah milik pak Mustakim dan Ibu Ismi menjadi penuh dengan kehadiran ilmu, terang di tengah kegelapan, seakan-akan sebuah perjalanan spiritual di alam kubur yang hanya dapat diterangi oleh cahaya ilmu dan amal. “Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu,”~ Hadits.
Demikian pula kata orang bijak : “Belajar dari kemarin, hidup untuk sekarang, berharap untuk besok. Hal yang paling penting adalah jangan berhenti bertanya.”~ Kata Bijak

Bahwa setiap ibu-ibu Rempong mereka membawa semangat dan tekad untuk mengejar keunggulan, bukan hanya dalam dunia yang fana, tapi juga untuk persiapan di alam kubur, yang merupakan tempat terakhir setiap manusia mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat selama hidup di dunia, disana juga tempat terakhir yang tidak ada lagi tempat setelah itu.
Ibu-ibu Rempong dengan tuntas, mereka menggali tajwid juga menggali makna-makna mendalam dari setiap ayat yang terpahat indah di lembaran-lembaran suci itu.

BACA JUGA:  Kemenangan Zohran Mamdani dan Doa Al Fatihah Imam Shamsi Ali

Para ibu-ibu yang di Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) dipanggil Ibu-ibu Rempong, di sini, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mereka banyak memberi pelajaran hidup pada saya. Mereka menemukan keindahan dalam kebersamaan dan kearifan di dalam ilmu. Ponsel pintar menjadi alat bantu, senter yang menerangi jalannya pengetahuan, meskipun di kala listrik tidak mampu lagi menerangi semangat mengejar pengetahuan. “Wanita yang cerdas adalah yang mampu menempatkan diri dengan baik sebagai anak, istri, dan ibu serta mampu membaca potensi kebaikan di manapun dia berada.” ~Aa Gym

Kegiatan Literasi Qur’an Ibu-ibu Rempong Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) yang rutin dilakukan ini bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang meresapi dan merenungi makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat suci pedoman bagi orang yang beriman. Mereka tidak hanya mengejar poin keilmuan, tetapi juga merajut kebersamaan yang kental, seolah-olah Al-Qur’an menjadi benang yang mengikat hati mereka.

Sudah 2 jam berlalu lampu belum menampakkan cahayanya, namun semangat belajar tidak pernah padam. Cahaya senter dan cahaya mata yang bersinar di wajah para ibu-ibu Rempong mengisyaratkan bahwa mereka siap menghadapi kegelapan dunia dengan kekuatan ilmu dan kebersamaan yang mereka bangun setiap malam selasa dan malam sabtu. Literasi Qur’an bersama ibu-ibu Rempong, bukan hanya kegiatan rutin, tetapi perjalanan spiritual yang menerangi jiwa mereka di tengah kehidupan yang kadang kelam.