Tersisa 2 orang ibu-ibu yang belum mendapatkan giliran mengaji juga materi tajwid belum tersampaikan tetiba cahaya dari atas plafon rumah menampakan cahayanya pertanda lampu telah menyalah, Alhamdulillah… ucap ibu-ibu serentak pertanda rasa syukur, perasaan bahagia juga Kalimat Alhamdulillah… seperti embun yang meresap ke dalam bumi setelah hujan, mungkin salah satu cara seseorang meresapi kebahagiaan dalam setiap apa yang didapatkan.
Belajar pun tuntas, 2 orang ibu-ibu yang tersisa telah selesai mengaji juga materi tajwid dengan judul materi malam itu “Ikhfa” tuntas salam penutup pertanda berakhirnya belajar terucap dari saya sebagai pendamping belajar dari ibu-ibu Rempong, Aroma yang terdeteksi sejak awal kedatang saya di rumah pak Mustakim dan Ibu Ismi terasa semakin tajam menusuk hingga menembus rasa. Ibu Ismi selaku tuan rumah sekaligus pemilik rumah yang dijadikan pusat belajar ibu-ibu Rempong muncul dari dapur dengan nampang yang terbuat dari bambu berisi buah yang ketika dipegang menyakitkan karena kulitnya yang berduri, namun bikin ketagihan saat di makan isinya (Buah Durian) diletakkan diatas meja yang digunakan belajar, kemudian ibu Ismi balik lagi ke dapur dan kembali dengan membawa bakul berisi buah langsat ditangan kanannya, dan tangan kirinya menjepit tangkai yang tersisa pada 1 buah durian lalu kembali meletakkan di atas meja “ini punya pak guru” kata bu Ismi pada ibu-ibu yang lain. “habis gelap terbelah-lah durian”
“Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” ~ Q.S. Luqman Ayat 12
Kafe Baca, 14 November 2023












