ANWAR FARUQ, JABATAN BOLEH TINGGI, TAPI TIDUR TETAP DI TENDA

By : RR Bang Maman

_Tentang Jabatan, Kerendahan Hati, dan Seni Menjadi Manusia Biasa_

Bone, NusantaraInsight — Ada satu hal yang kadang-kadang membuat saya penasaran ketika melihat seseorang sudah menduduki jabatan tinggi: apakah ia masih bisa merasa nyaman duduk di lantai bersama orang-orang biasa?

Pertanyaan sederhana, memang. Tetapi coba pikirkan sebentar.

Ketika seseorang sudah terbiasa duduk di ruang berpendingin udara, menghadiri rapat-rapat penting, dilayani staf, dan berurusan dengan banyak hal yang serba teratur, bagaimana rasanya tiba-tiba harus tidur di tenda, makan bersama peserta, berkeringat di bawah dibawa gempuran agenda yang berjalan, lalu berjalan jauh melewati jalan setapak yang menanjak? 101 anak tangga

Apalagi kalau orang itu seorang pejabat.

Ah, sudahlah. Tidak usah membayangkan terlalu jauh. Mari saya ceritakan sebuah pengalaman dari KEMBARA 2026.

Di Hutan Pinus Bulu Tanah, Kabupaten Bone, pada 25 – 27 September 2026, suasana KEMBARA mulai terasa. Peserta berdatangan, perlengkapan disiapkan, tenda-tenda berdiri, dan kesibukan panitia seperti tidak pernah benar-benar mengenal kata selesai.

BACA JUGA:  400 Tahun Syekh Yusuf: Puisi dalam Memaknai Perayaan

Di antara orang-orang yang hadir, ada seorang lelaki yang membawa dua amanah besar sekaligus. *Anwar Faruq, S.Kom., M.M.* Namanya mungkin lebih akrab terdengar di ruang-ruang rapat politik daripada di antara tenda-tenda perkemahan.

Ia adalah *Wakil Ketua II DPRD Kota Makassar sekaligus Ketua DPW PKS Sulawesi Selatan.*

Kalau melihat jabatan yang disandangnya, orang tentu bisa membayangkan kesibukan yang menunggu di luar sana. Ada urusan pemerintahan, agenda partai, pertemuan dengan banyak orang, dan berbagai tanggung jawab yang tidak mungkin selesai hanya dalam satu atau dua hari.

Tetapi hari itu, di tengah hutan pinus, saya tidak sedang melihat seorang pejabat yang datang untuk sebatas menyapa peserta.

Ia datang untuk mengikuti kegiatan.

Ya, mengikuti. Bukan hanya membuka acara, menyampaikan sambutan, kemudian menyerahkan urusan kepada panitia. Ia menjadi bagian dari barisan peserta KEMBARA yang diselenggarakan *Bidang Kepanduan dan Kepemimpinan Partai DPW PKS Sulawesi Selatan.*

Dan yang menarik, ia menjalani kegiatan itu sampai selesai.

Saya membayangkan, sebenarnya mudah saja kalau ia ingin memilih kenyamanan. Sebuah telepon kepada staf di DPRD Kota Makassar mungkin cukup untuk mengatur tempat istirahat yang lebih layak. Vila di sekitar lokasi, misalnya. Setelah kegiatan seharian, ia bisa beristirahat dengan nyaman, jauh dari dinginnya malam yang menyusup di sela-sela tenda.

BACA JUGA:  Bedah Buku: Heterarki Masyarakat Muslim Indonesia

Tidak ada yang aneh dengan pilihan itu. Ia punya jabatan, punya kesibukan, dan tentu memiliki kebutuhan istirahat seperti orang lain.

Tetapi, rupanya, ada pilihan lain yang lebih menarik untuk diceritakan.

Ia tidur di tenda bersama peserta.

Makan bersama peserta.

Mengikuti kegiatan bersama peserta tanpa absen.

Seolah-olah selama tiga hari itu, jabatan yang melekat pada namanya tidak perlu menjadi alasan untuk menciptakan jarak.

Dan entah mengapa, bagi saya, justru di situlah cerita ini mulai terasa.

Sebab, terkadang, kita terlalu sibuk melihat kebesaran seseorang dari tempat ia duduk, sampai lupa memperhatikan apakah ia masih bersedia duduk bersama orang-orang yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan selain kebersamaan.

Malam di perkemahan tentu berbeda dengan malam di rumah. Ada suara angin yang menyelinap di antara pepohonan, ada suara langkah kaki yang sesekali terdengar, dan ada tubuh-tubuh lelah yang akhirnya menyerah pada kantuk setelah seharian beraktivitas.

Di dalam tenda, tidak ada ruang rapat yang harus dijaga wibawanya. Tidak ada meja besar yang memisahkan pimpinan dan peserta. Tidak ada kursi khusus yang membuat seseorang tampak lebih penting daripada yang lain.