JURNALIS DAN DAKWAH: Dari Pena, Mesin Ketik, hingga Kecerdasan Buatan

Makassar, NusantaraInsight — Zaman sekarang menulis pikiran, gagasan, pengalaman, bahkan berita sudah sangat mudah. Teknologi telah memangkas begitu banyak kesulitan yang dahulu harus dilalui seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Apa yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit, bahkan detik.

Saya termasuk orang yang mengalami perjalanan panjang itu.

Pada masa ketika komputer belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, orang menulis dengan tangan. Sebelumnya lagi, pena dan kertas menjadi alat utama untuk menuangkan pikiran. Saya masih merasakan suasana itu ketika pada tahun 1980-an, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya mencoba menulis cerita kanak-kanak atau cerkan untuk dikirim ke Kolom Sahabat Harian Pedoman Rakyat di Makassar.

Saya menulisnya dengan pena.

Pada zaman itu, orang yang terbiasa menulis tangan biasanya memiliki tulisan yang indah, rapi, dan enak dibaca. Tulisan tangan bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi bagian dari karakter seseorang. Bentuk huruf, kerapian, dan cara seseorang menyusun tulisan terkadang memperlihatkan kesabaran dan ketekunan yang dimilikinya.

BACA JUGA:  Lumbung Literasi: Ruang Belajar Alternatif

Kemudian datanglah era mesin ketik.

Menulis menjadi sedikit lebih cepat, tetapi bukan berarti menjadi lebih mudah. Setiap kesalahan ketikan bisa menjadi persoalan tersendiri. Salah satu teman setia penulis zaman itu adalah Tip-Ex. Kalau salah mengetik, huruf yang keliru harus ditutup terlebih dahulu, kemudian ditimpa dengan huruf yang benar.

Bayangkan kalau satu halaman penuh ternyata memiliki banyak kesalahan. Hehehe… bisa jadi bukan hanya tulisan yang membuat kita lelah, tetapi juga pekerjaan memperbaikinya.

Dunia jurnalistik pada masa itu pun memiliki tantangannya sendiri.

Seorang wartawan yang sedang mewawancarai narasumber harus mampu menangkap informasi dengan cepat. Catatan dibuat secepat mungkin menggunakan tulisan tangan, bahkan ada yang menggunakan teknik stenografi atau steno agar dapat mencatat ucapan narasumber secara lebih cepat.

Dokter pun memiliki kisah yang hampir sama. Karena harus menulis resep dalam waktu singkat, tulisan mereka sering kali terlihat seperti “cakar ayam”. Hehehe… Mungkin bukan karena dokter tidak bisa menulis dengan rapi, tetapi karena pikirannya sudah berlari lebih cepat daripada tangannya.

BACA JUGA:  Keterangan dan Sumpah Palsu: Dampaknya pada Proses Hukum dan Terlapor yang Terkriminalisasi

Ketika Teknologi Mengubah Cara Kita Menulis

Hari ini semuanya berubah.

Seorang wartawan tidak perlu lagi sibuk mencatat setiap kalimat narasumber dengan tangan. Telepon genggam sudah mampu merekam wawancara. Rekaman tersebut kemudian dapat dikonversi menggunakan teknologi speech-to-text menjadi tulisan.

Dalam waktu yang sangat singkat, suara berubah menjadi teks.

Teknologi kecerdasan buatan bahkan semakin memperluas kemampuan tersebut. Tulisan dapat dirapikan, disusun, diringkas, diterjemahkan, bahkan dikembangkan menjadi berbagai bentuk naskah.

Media juga mengalami perubahan besar. Dahulu seseorang harus menunggu koran terbit untuk mengetahui sebuah berita. Sekarang media online dapat menyebarkan informasi dalam hitungan menit.