Sebuah peristiwa terjadi hari ini, berita bisa muncul hari ini juga.
Dunia jurnalistik menjadi semakin cepat. Dunia kepenulisan menjadi semakin terbuka. Siapa pun yang memiliki gagasan dan kemampuan menyampaikannya kini memiliki kesempatan untuk menjangkau pembaca yang jauh lebih luas.
Namun, kemudahan teknologi sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran.
Kemudahan menulis tidak boleh membuat kita kehilangan etika.
Kemampuan menyebarkan informasi seharusnya diiringi kemampuan memeriksa kebenaran informasi tersebut.
Di sinilah saya melihat hubungan yang sangat menarik antara jurnalisme dan dakwah.
Dakwah Tidak Selalu Harus di Atas Mimbar
Dakwah sering kali kita bayangkan sebagai ceramah di masjid, khutbah Jumat, pengajian, atau majelis ilmu.
Padahal dakwah memiliki jalan yang sangat luas.
Tulisan juga merupakan jalan dakwah.
Sebuah tulisan yang mengajak manusia mengingat Allah, memperbaiki akhlak, menjauhi keburukan, mencintai sesama, menjaga lingkungan, berlaku jujur, bekerja dengan amanah, atau membangun kehidupan yang lebih baik, dapat menjadi bagian dari dakwah.
Bahkan sebuah berita yang ditulis dengan jujur dan berimbang dapat menjadi bagian dari tanggung jawab moral seorang jurnalis.
Seorang jurnalis tidak hanya memindahkan fakta dari lapangan ke layar pembaca. Ada nilai yang melekat pada pekerjaannya: kejujuran, ketelitian, keberanian, dan tanggung jawab.
Berita yang benar dapat mencerahkan.
Tulisan yang baik dapat mengubah cara pandang.
Gagasan yang bermanfaat dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan kebaikan.
Di situlah tulisan bertemu dengan dakwah.
Peluang Mencetak Amal melalui Tulisan
Dahulu, untuk menerbitkan sebuah tulisan kita harus melewati proses yang panjang. Menulis dengan tangan, mengetik, mengirimkan naskah, menunggu redaksi, lalu berharap tulisan tersebut dimuat.
Sekarang jalannya jauh lebih terbuka.
Ada media online, blog, media sosial, kanal video, platform tulisan, dan berbagai sarana digital lainnya. Bahkan seseorang dapat menerbitkan buku secara mandiri.
Teknologi telah membuka pintu yang dahulu terasa sempit.
Karena itu, menurut saya, peluang mencetak amal melalui tulisan juga semakin terbuka lebar.
Bayangkan jika sebuah tulisan tentang kejujuran dibaca ribuan orang.
Seseorang kemudian tergerak untuk berhenti berbohong.
Sebuah tulisan tentang sedekah dibaca seseorang yang kemudian membantu orang lain.
Tulisan tentang shalat membuat seseorang kembali mendekat kepada Allah.
Tulisan tentang menjaga lingkungan membuat keluarga mulai memilah sampah.
Tulisan tentang persaudaraan membuat seseorang mengurungkan niat untuk menyebarkan kebencian.
Kita mungkin tidak pernah tahu ke mana sebuah tulisan akan berjalan setelah dipublikasikan.
Ia bisa dibaca hari ini.
Bisa dibaca kembali tahun depan.
Bisa disimpan seseorang.
Bisa dibagikan kepada orang lain.
Bahkan mungkin setelah penulisnya tidak lagi berada di dunia, tulisannya masih terus dibaca dan memberikan manfaat.
Di situlah saya melihat tulisan memiliki dimensi yang sangat panjang.












