Dari Pena Menjadi Amal
Saya pernah memulai perjalanan menulis dengan pena dan kertas. Kemudian mengenal mesin ketik, komputer, internet, media online, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Alatnya berubah.
Zamannya berubah.
Cara menyebarkan tulisan pun berubah.
Tetapi satu hal yang seharusnya tidak berubah adalah niat.
Untuk apa kita menulis?
Jika menulis hanya untuk mengejar popularitas, mungkin tulisan akan berhenti ketika popularitas itu hilang.
Jika menulis hanya untuk mengejar keuntungan, mungkin semangat akan berhenti ketika keuntungan tidak lagi datang.
Namun, jika tulisan diniatkan sebagai ikhtiar menghadirkan manfaat, maka setiap huruf memiliki peluang menjadi amal.
Karena itu, bagi para jurnalis, penulis, blogger, pegiat media sosial, dan siapa saja yang diberi kemampuan menuangkan gagasan, teknologi hari ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan.
Ia adalah amanah.
Dahulu kita kesulitan menulis karena alatnya terbatas.
Sekarang alatnya berlimpah. Yang menjadi tantangan justru bagaimana menggunakan kemudahan itu untuk menghadirkan kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan.
Mungkin suatu hari nanti kita tidak lagi ditanya berapa banyak tulisan yang telah kita buat.
Boleh jadi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Berapa banyak kebaikan yang lahir dari tulisan kita?
Sebab tulisan yang baik bukan hanya meninggalkan kata-kata.
Ia meninggalkan jejak.
Dan apabila jejak itu mengantarkan manusia kepada kebaikan, insyaallah tulisan pun dapat menjadi salah satu jalan panjang menuju amal yang terus mengalir.
Dari pena menuju berita.
Dari berita menuju pengetahuan.
Dari pengetahuan menuju kesadaran.
Dan dari kesadaran menuju kebaikan.
Itulah salah satu wajah jurnalis dan dakwah di zaman teknologi.












