ANWAR FARUQ, JABATAN BOLEH TINGGI, TAPI TIDUR TETAP DI TENDA

Itulah yang saya bayangkan ketika melihat cerita KEMBARA ini. Ada seorang pemimpin yang selama tiga hari tidak hanya hadir sebagai orang yang memiliki kewenangan, tetapi juga sebagai seseorang yang bersedia menjadi bagian dari pengalaman bersama.

Mungkin peserta akan melupakan beberapa materi yang disampaikan. Mungkin mereka tidak lagi ingat seluruh rangkaian permainan. Tetapi pengalaman melihat seorang pimpinan ikut memikul tabung gas, melakukan push-up, tidur di tenda, dan berjalan bersama mereka bisa saja menetap lebih lama.

Bukan karena tabung gas itu begitu istimewa.

Bukan pula karena 101 anak tangga itu menjadi ukuran kepemimpinan.

Melainkan karena, di tengah perbedaan jabatan dan tanggung jawab, mereka melihat sesuatu yang sederhana: seorang pemimpin yang tidak merasa perlu berdiri jauh dari barisannya.

Tanggal 27 September, KEMBARA akhirnya sampai di penghujung kegiatan. Perjalanan selesai, perlengkapan kembali dibereskan, dan satu per satu peserta bersiap meninggalkan Hutan Pinus Bulu Tanah.

Tenda-tenda yang beberapa hari sebelumnya menjadi tempat berteduh akan kembali dilipat. Jalur yang dilewati bersama akan kembali sepi. Orang-orang akan pulang menuju kehidupan masing-masing, dengan kesibukan dan tanggung jawab yang menunggu.

BACA JUGA:  PROF. MUHAMAD ALI, PH.D (MENJANGKAU DUNIA DARI MATARAM): Visi Global, Aksi Lokal, dan Kepemimpinan Akademik yang Transformatif

Pak Anwar pun akan kembali ke dunianya yakni *urusan DPRD, amanah partai, rapat, pertemuan, dan berbagai tanggung jawab yang tentu tidak bisa ditinggalkan begitu saja.*

Tetapi bagi saya, ada satu hal dari KEMBARA yang layak dibawa keluar dari hutan itu.

Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu berada di tempat paling tinggi untuk menunjukkan kepemimpinannya.

Kadang-kadang, ia cukup duduk di tanah yang sama.

Kadang-kadang, ia cukup tidur di tenda yang sama.

Dan kadang-kadang, ia cukup ikut memikul beban, meskipun sebenarnya ada orang lain yang bisa melakukannya.

Sebab, kepemimpinan bukan hanya perkara membawa orang lain menuju tujuan. Ia juga tentang bagaimana kita memperlakukan mereka selama perjalanan.

Jangan sampai kita begitu sibuk memikirkan garis akhir, sampai lupa bahwa orang-orang yang berjalan bersama kita juga punya kaki yang lelah, bahu yang berat, dan hati yang membutuhkan penghargaan.

Jangan sampai kita begitu ingin terlihat sebagai pemimpin, sampai lupa menjadi kawan seperjalanan.

Dan jangan sampai kita terlalu bangga dengan kursi yang sedang diduduki, sampai lupa bahwa suatu hari nanti kita semua akan meninggalkannya.

BACA JUGA:  MEMPERKUAT POTENSI GEN Z DENGAN WISDOM JADUL

Saya tidak tahu apakah Pak Anwar menganggap tidur di tenda, memikul tabung gas, dan mengikuti long march sebagai sesuatu yang istimewa. Mungkin baginya, itu hanya bagian dari kegiatan yang memang harus dijalani.

Tetapi justru di situlah saya menemukan sesuatu yang menarik untuk direnungkan.

Kadang-kadang, pelajaran yang paling berharga tidak datang dari sesuatu yang sengaja dibuat besar. Ia justru muncul dari tindakan sederhana yang dilakukan tanpa banyak penjelasan.

Seperti seseorang yang tidak keberatan duduk bersama orang lain.

Seperti seseorang yang tidak merasa kehilangan kehormatan ketika ikut mengerjakan pekerjaan sederhana.

Seperti seseorang yang memahami bahwa jabatan boleh membedakan tanggung jawab, tetapi tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan.

Maka, jika suatu hari nanti orang bertanya apa yang menarik dari Anwar Faruq di KEMBARA 2026, saya ingin menjawab dengan cerita yang sederhana.

Ada seorang pemimpin yang punya kesempatan untuk beristirahat di tempat yang lebih nyaman, tetapi memilih tidur di tenda bersama peserta.

Ada seorang pejabat yang bisa saja menyerahkan pekerjaan kepada orang lain, tetapi ikut memikul tabung gas melewati 101 anak tangga.