Yang ada hanya orang-orang yang sama-sama membutuhkan tempat untuk beristirahat.
Barangkali, di situlah kita bisa belajar sesuatu.
Bahwa jabatan, setinggi apa pun, tetap tidak bisa mengubah kebutuhan dasar seorang manusia. Kita semua bisa lelah. Kita semua bisa lapar. Kita semua membutuhkan tempat untuk memejamkan mata.
Lalu, apa yang sebenarnya membedakan seseorang dari yang lain?
Tentu bukan semata-mata tempat tidurnya. Bukan pula fasilitas yang tersedia di sekelilingnya.
Tetapi bagaimana ia memandang dirinya sendiri ketika memiliki kesempatan untuk mendapatkan perlakuan berbeda.
Ada orang yang ketika jabatannya naik, perlahan-lahan merasa harus semakin jauh dari kehidupan orang biasa. Mungkin awalnya hanya perkara tempat duduk. Lama-lama urusan makan. Kemudian urusan pelayanan. Sampai suatu hari, tanpa sadar, ia merasa bahwa semua orang memang seharusnya menyesuaikan diri dengannya.
*Padahal, jabatan itu datang bersama amanah, bukan izin untuk merasa lebih tinggi.*
Saya jadi teringat, betapa seringnya kita mendengar orang berbicara tentang kerendahan hati. Kalimatnya indah, nasihatnya panjang, bahkan kadang-kadang disampaikan dengan suara yang begitu meyakinkan.
Tetapi kerendahan hati sesungguhnya tidak selalu pandai memperkenalkan dirinya.
Ia sering datang diam-diam.
Duduk di tempat yang sama. Makan dari hidangan yang sama. Tidak merasa perlu dilayani secara khusus. Dan tetap bisa tertawa bersama orang lain tanpa harus mengingatkan siapa dirinya.
Mungkin itulah sebabnya saya merasa cerita tentang Anwar Faruq di KEMBARA layak dituliskan. Bukan untuk membesar-besarkan perkara tidur di tenda, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa kedudukan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kesediaan untuk hidup dalam kebersamaan.
Pagi-pagi, cerita KEMBARA tentu tidak berhenti pada urusan tenda.
Ada kegiatan yang menunggu. Ada tenaga yang harus dikeluarkan. Ada tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan duduk manis sambil memberi arahan.
Di sinilah cerita menjadi sedikit lebih menarik.
Anwar Faruq ikut memikul tabung gas melewati 101 anak tangga.
Ya, seratus satu anak tangga.
Bukan sebatas melewatinya dengan tangan kosong, tetapi ikut membawa beban. Ia juga mengikuti push-up bersama peserta, menjalani rangkaian kegiatan tanpa absen, dan ikut long march pada hari terakhir.
Saya membayangkan, kalau saja ada yang bertanya, mengapa seorang pimpinan partai dan Wakil Ketua II DPRD harus repot-repot mengangkat tabung gas?
Bukankah ada peserta lain yang bisa melakukannya?
Bukankah tugas seorang pemimpin cukup memastikan kegiatan berjalan baik?
Pertanyaan itu mungkin masuk akal. Tetapi bagi saya, ada hal yang lebih penting daripada sebatas siapa yang seharusnya mengangkat tabung gas.
Yaitu, apakah seseorang masih bersedia mengangkat beban ketika ia sebenarnya bisa meminta orang lain mengerjakannya?
Tentu, pemimpin tidak harus melakukan semua pekerjaan sendiri. Ia perlu membagi tugas, mempercayai orang lain, dan memastikan setiap orang menjalankan tanggung jawabnya.
Tetapi ada perbedaan antara mendelegasikan pekerjaan dan merasa terlalu tinggi untuk ikut bekerja.
Yang pertama adalah bagian dari kepemimpinan. Yang kedua bisa menjadi masalah ketika perlahan-lahan membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga bagian dari sebuah perjuangan.
Di KEMBARA, tabung gas itu mungkin hanya perlengkapan biasa. Seratus satu anak tangga itu mungkin hanya bagian dari perjalanan. Push-up dan long march mungkin hanya aktivitas fisik.
Tetapi ketika seorang pemimpin ikut menjalaninya bersama peserta, semua itu berubah menjadi cerita kecil tentang keteladanan.












