Ia tidak perlu mengatakan bahwa dirinya dekat dengan peserta. Ia cukup berada di antara mereka.
Tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya bersedia berjuang bersama. Ia cukup ikut berkeringat.
Tidak perlu berpidato panjang tentang kebersamaan. Ia cukup mengambil bagian dalam pekerjaan yang sedang dihadapi bersama.
Dan terkadang, tindakan sesederhana itu justru lebih lama tinggal di dalam ingatan orang daripada serangkaian kalimat yang disampaikan dari atas panggung.
Ada sebuah ayat yang selalu terasa dekat ketika berbicara tentang sikap seperti ini.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqan ayat 63, bahwa hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati.
*Saya suka merenungkan bagian itu. Berjalan di bumi dengan rendah hati.*
Bukan hanya berbicara dengan rendah hati. Bukan hanya tersenyum ketika bertemu orang lain. Tetapi menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih mulia daripada sesama hanya karena memiliki kedudukan tertentu.
Sebab, kadang-kadang, yang membuat seseorang jauh dari orang lain bukanlah jarak tempat tinggal atau perbedaan kesibukan.
Yang membuatnya jauh adalah perasaan bahwa dirinya sudah terlalu tinggi untuk memahami kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Padahal, semakin tinggi amanah yang diberikan, semestinya semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga hati.
*Jangan sampai jabatan membuat kita lupa cara mendengarkan. Jangan sampai penghormatan membuat kita sulit menerima masukan. Jangan sampai fasilitas membuat kita kehilangan kesediaan untuk merasakan kesulitan orang lain.*
Dan jangan sampai, ketika orang-orang mulai memanggil kita dengan sebutan terhormat, kita justru lupa menghormati mereka yang tidak memiliki sebutan apa-apa.
Saya kira, itulah bagian yang paling penting dari cerita ini.
*Anwar Faruq tidak kehilangan jabatannya ketika masuk ke dalam tenda. Beliau tetap Ketua DPW PKS Sulawesi Selatan dan tetap Wakil Ketua II DPRD Kota Makassar.*
Tetapi ia tidak menjadikan jabatan itu sebagai tembok pemisah.
Ia hadir sebagai peserta, menjalani kegiatan bersama, dan ikut merasakan lelahnya perjalanan.
Tentu, kita tidak bisa menilai seluruh karakter seseorang hanya dari satu kegiatan. Kerendahan hati adalah sikap yang harus terus dijaga dalam berbagai keadaan. Tetapi apa yang terlihat di KEMBARA setidaknya memberi kita sebuah contoh yang patut diapresiasi yakni *bahwa seseorang bisa memiliki kedudukan tinggi tanpa harus selalu meminta diperlakukan berbeda.*
Dan bukankah dunia kepemimpinan kita membutuhkan lebih banyak contoh seperti itu?
Saya pernah berpikir, mengapa ada orang yang begitu mudah dikenang, sementara ada pula yang sudah berkali-kali berbicara di depan banyak orang, tetapi tidak banyak meninggalkan kesan?
Mungkin karena manusia tidak hanya mengingat apa yang kita katakan. Mereka juga mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita.
Ada orang yang membuat kita merasa kecil setiap kali bertemu dengannya. Ada pula orang yang membuat kita merasa diterima, meskipun kedudukan kita jauh berbeda.
Yang satu mungkin dihormati karena jabatannya.
Yang lain dihormati karena sikapnya.
Dan kalau boleh memilih, tentu lebih indah ketika keduanya berjalan beriringan.
Sebab, jabatan bisa membuat orang membuka jalan untuk kita. Tetapi kerendahan hati membuat orang bersedia berjalan bersama kita.
*Jabatan bisa membuat orang mendengarkan ketika kita berbicara. Tetapi keteladanan membuat mereka mengingat apa yang kita lakukan.*
Jabatan bisa membawa kita ke tempat yang tinggi. Tetapi hanya sikap kita yang menentukan apakah kita masih bisa dekat dengan orang-orang di bawah.












