Dan ada seorang pemimpin yang, selama tiga hari itu, tidak hanya meminta orang lain mengikuti kegiatan, tetapi ikut menjalani perjalanan yang sama.
Bagi saya, itu bukan perkara kecil.
Sebab, tidak semua orang yang punya kesempatan untuk diistimewakan bersedia memilih kebersamaan.
Jabatan boleh tinggi, tetapi hati harus tetap membumi.
Dan kalau boleh saya tambahkan satu hal lagi: jangan sampai kita begitu sibuk menjaga wibawa sebagai pemimpin, sampai lupa menjaga hati sebagai manusia.
Sebab, ketika jabatan selesai, kursi akan ditinggalkan, tanda tangan tidak lagi dicari seperti dahulu, dan nama kita mungkin tidak lagi disebut sesering sekarang.
Tetapi orang-orang bisa saja masih mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Mereka mungkin lupa berapa kali kita memimpin rapat. Namun, mereka ingat ketika kita bersedia duduk bersama.
Mereka mungkin lupa apa yang kita sampaikan dari atas panggung. Namun, mereka ingat ketika kita ikut mengangkat beban.
Dan mereka mungkin tidak lagi mengingat jabatan yang pernah kita sandang. Namun, mereka bisa saja tetap mengingat bahwa kita pernah membuat mereka merasa dihargai.
Barangkali, itulah warisan yang paling sunyi dari seorang pemimpin.
Bukan nama yang terpampang di pintu ruangan. Bukan kursi yang diperebutkan banyak orang. Bukan pula seberapa sering dirinya disebut sebagai orang penting.
Melainkan jejak kemanusiaan yang tertinggal di hati orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Sebab, pada akhirnya, pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu ingin berada di depan, melainkan orang yang tidak keberatan berjalan bersama, bahkan ketika jalan itu menanjak dan beban yang dipikul terasa berat.
Dan di Hutan Pinus Bulu Tanah, di antara tenda-tenda sederhana dan 101 anak tangga itu, ada satu pelajaran yang rasanya layak kita simpan baik-baik:
Untuk menjadi besar, seseorang tidak harus membuat dirinya tampak tinggi. Kadang-kadang, ia justru perlu menunjukkan bahwa dengan segala jabatan yang dimilikinya, ia tetap bersedia menjadi manusia biasa.
_PT, 14/10/2026_












