FIKSI MINI (9) : Kisah Cinta: Bermula dari Masker Berwarna Krem

Oleh Andi Wanua Tangke

Polisi tampan itu mengisap rokok kreteknya. Melambungkan asapnya mengenai plafon berwarna putih. Merapikan rambutnya dengan sisir kecil. Mengusap-usap kumis tipisnya dengan telapak tangan kanannya. Matanya fokus. Benar-benar fokus. Memandangi wajah seorang perempuan muda berwajah cantik berkulit putih bersih yang sedang membaca buku. Terlihat, buku itu berjudul: Filsafat Hukum. Entah siapa penulisnya. Tak jelas nama penulisnya lantaran tangan mungil perempuan itu menutupi sebagian sampul bukunya.

Sang polisi berpakaian dinas dengan postur tubuh atletis itu tak peduli lagi dengan judul buku itu. Kedua matanya tak berkedip lagi menyorot wajah perempuan yang lagi sendirian itu. “Sepertinya perempuan itu seorang mahasiswa senior atau seorang dosen mata kuliah hukum. Cantik. Pasti hatinya lembut. Tanda itu terlihat pada raut wajahnya. Sendiri lagi, ya sendiri. Hanya ditemani secangkir teh manis. Ada juga roti bakar di mejanya. Mudah-mudahan tak punya pacar. Andaikan dia tak punya pacar, ya andaikan. Hemm…” Sang Polisi bergumam. Mengulum senyum. Berhayal, sembari menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya berdetak tak beraturan. Mengendap-endap. Sejak itu, sang polisi merencanakan sebuah siasat, demi “mengayomi” perempuan itu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

***

Pagi, sekitar pukul 10, sang polisi hadir di cafe itu untuk menikmati kopi hitam gula aren, kesukaannya. Dia melihat ada masker berwarna krem tepat di samping teh manis perempuan itu. “Saya akan mendekat. Saya menemukan bahan awal untuk memulai berkenalan dengannya, ya itu adanya masker krem itu.” Sang Polisi berdiri. Berjalan ke arah meja perempuan cantik. “Boleh saya duduk di sini?” tanyanya. “Iya, silakan, Pak.” Perempuan memersilakan sambil tersenyum tipis.

“Bagus, adik memakai masker. Kini kewaspadaan menularnya virus covid perlu dijaga. Salah satu caranya dengan selalu memakai masker. Saya salut adik,” Sang polisi memulai pembicaraan.

“Terima kasih, Pak. Saya ini masih bersedih, Pak. Keluarga kami, ayah dan mama menjadi korban covid.”

“Maksudnya, kedua orang tuanya sempat terkena covid? Tapi kini keduanya sudah sehat ya, adik?”

“Meninggal, Pak.” Perempuan itu tertunduk menangis.

“Oh, saya ikut bersedih, yang meninggal ayah atau mama?”

“Keduanya, Pak.” Perempuan itu mengusap wajahnya dengan tisu. Sang polisi kian memerlihatkan keprihatinannya tentang apa yang dialami perempuan cantik yang kini duduk berhadap-hadapan dengannya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (3): Preman Kota Masuk Desa

***

Benar, perempuan itu seorang dosen di Fakultas Hukum. “Keren banget: cantik, muda, dosen, hem.. luar biasa.” Sang polisi mengagumi perempuan yang kini dalam “pemeliharaannya” atau lebih tepatnya: berhasil “mengayomi” kehidupan pujaannya itu.