NusantaraInsight, Makassar — Tari adalah presentasi kultural. Tubuh yang menari dapat dibaca sebagai wacana pertunjukan yang menampilkan dan menyimpan arsip gerak tubuh budaya tertentu pada suatu kurun waktu tertentu yang masih lekat dalam ingatan, riwayat lintasan sejarah masa lampau hingga kini.
Meski demikian gerak tubuh menari tidak dapat serta-merta tersimpan sebagai arsip, sebagaimana rekaman seperti video visual art, foto, tulisan atau lukisan karena ungkapan gerak tari dari tarian yang sama, pada waktu dan tempat berbeda, sangat memungkinkan terjadinya perubahan dan adaptasi penyajiannya.
Oleh sebab itu repetisi kegiatan menari pada waktu dan tempat berbeda, senantiasa penting terus dilakukan untuk komunikasi, adaptasi, pengarsipan riwayat perkembangan gerak tubuh dan pengetahuan seni tari demi keberlanjutan keberadaan kebudayaan tertentu di masa datang.
Demikian pula adanya ikhtiar yang secara tersirat dalam kegiatan Perayaan Hari Tari Sedunia (HTS) 2026 diselenggarakan pada hari Rabu 29 April 2026 sejak pukul 10.00-21.00 WITA di Kawasan Trans Studio Mal (TSM) Makassar. Tema kegiatan HTS tahun 2026 ini “Makassar Menari; Gunung-Pesisir menuju Panggung Dunia”. Event ini gratis ditonton dan terbuka untuk umum.
Menurut Ketua Pelaksana kegiatan DR. Nurlina Syahrir. M.Hum. “Acara HTS telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak tahun 2015. Menggunakan kawasan Benteng Ujungpandang – Port Rotterdam (2015 ); Baruga Colliq Pujie, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM) 2017 dan 2025. Hari Tari Dunia tahun 2022 dipusatkan di Toraja Utara, dan Monumen Mandala 2024.”
“Tahun ini, acara akbar tersebut melibatkan ratusan penari kurang dari 35-an antara lain dari grup tari asal Makassar, Gowa, Sanggar Panrannuangku UPT SMPN 2, Mappakasunggu Takalar, Barru, Sulawesi Selatan, Bahkan dari Sanggar Seni Tipalayo Mammesa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan Palu Sulawesi Tengah. Mereka menarikan aneka ragam tarian, mulai tari tradisi, kontemporer, hingga modern.“ Imbuh si penulis buku “Tari Batara“ (2025).
“Hari Tari Sedunia dapat berperan untuk membangun ekosistem, memperluas jejaring komunitas seni tari, membuka peluang kolaborasi lintas daerah. Untuk momentum ini, pelaku seni tari lintas generasi diharapkan pula memanfaatkan kesempatan untuk dapat semakin percaya diri ketika menampilkan karya dan menari. Dalam konteks ini, kami tetap mengutamakan karya dari khasanah budaya lokal Sulawesi Selatan.“ Lanjut Lina.
Pembukaan acara berlangsung di pelataran depan Trans Studio Mal Makassar menampilkan Tari “Pagellu“ dari Tanah tinggi Toraja di sambung dengan tari Pakarena “Makbiring Kassi, tari “Galaganjur“ disajikan oleh 150-an penari alumnus SMKI dan alumni Jurusan Sendratasik UNM, diperkuat oleh dua maestro; Maestro tari Hj Munasiah Daeng Jinna dan Maestro Gendang, Serang Dakko dari Sanggar Alam.













