Wardah Dorong Calon Eco Ranger Unismuh Jadi Motor Komunikasi Lingkungan

NusantaraInsight, Makassar — Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Wardah, S.Sos., M.A., mendorong mahasiswa calon Eco Ranger menjadi penggerak komunikasi lingkungan di lingkungan kampus.

Hal itu disampaikan Wardah saat membawakan materi dalam kegiatan Kursus Pengelolaan Limbah Dapur Menjadi Kompos yang digelar Sustainable Waste Solution Center (SWSC) Unismuh di Bank Sampah Unismuh, Kamis (30/4/2026).

Wardah yang juga tergabung dalam Divisi Edukasi dan Advokasi Lingkungan SWSC menegaskan, pengelolaan sampah tidak cukup dipahami sebagai persoalan teknis semata.

“Kompos adalah produknya, tetapi perubahan perilaku adalah target besarnya,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan komunikasi menjadi kunci penting dalam mendorong perubahan tersebut. Calon Eco Ranger tidak hanya dituntut memahami cara membuat kompos, tetapi juga mampu mengedukasi, mengajak, dan mendampingi masyarakat kampus agar peduli terhadap pengelolaan limbah dapur.

Ia menjelaskan, limbah dapur seperti sisa nasi, kulit buah, potongan sayur, hingga ampas kopi masih kerap dianggap sebagai sampah yang harus dibuang.

Padahal, jika dipilah dan dikelola dengan benar, limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat.

BACA JUGA:  Mempermudah Pekerjaan Petani, Mahasiswa KKNT di Desa Ere Cinnong Buat Alat Pemupukan

“Persoalan sampah sering kali bermula dari cara pandang. Jika dianggap sebagai sisa, maka dibuang. Tapi kalau dipandang sebagai sumber daya, maka bisa diolah kembali,” jelasnya.

Wardah menilai, komunikasi lingkungan memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pengetahuan dan aksi.

Ia mencontohkan, pesan kampanye lingkungan perlu dibuat sederhana, konkret, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Beberapa contoh pesan yang dapat digunakan, seperti “Sisa makanan jangan langsung dibuang, bisa jadi kompos”, “Kulit buah hari ini, pupuk tanaman besok”, hingga “Pilah dulu, kompos kemudian”.

“Pesan harus mudah diingat, mudah dipraktikkan, dan dekat dengan keseharian,” katanya.

Dalam materinya, Wardah juga memaparkan peran calon Eco Ranger sebagai edukator, fasilitator, komunikator perubahan perilaku, dan advokat lingkungan.

Sebagai edukator, mahasiswa diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya memilah limbah dapur.

Sementara sebagai fasilitator, mereka juga berperan mendampingi proses pemilahan hingga pengolahan.

Selain itu, sebagai komunikator perubahan perilaku, calon Eco Ranger perlu menyusun pesan yang singkat, jelas, dan mampu menggerakkan.

BACA JUGA:  Alumni S3 Sosiologi UNM Pdt Dr I Ketut Yakobus Terpilih Jadi Rektor UNKRIT

Wardah juga menekankan pentingnya mengenali sasaran komunikasi, mulai dari mahasiswa kos, pengelola kantin, organisasi mahasiswa, hingga masyarakat sekitar kampus.

Untuk menjangkau mahasiswa, ia mendorong pemanfaatan media yang dekat dengan generasi muda, seperti Instagram, TikTok, video pendek, hingga grup WhatsApp.

Tak hanya edukasi, Wardah juga menyoroti pentingnya advokasi lingkungan dalam mendorong perubahan sistem di kampus.

Menurutnya, advokasi dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengusulkan tempat sampah organik di kantin, membuat jadwal pengambilan limbah dapur, hingga menyusun panduan pemilahan.

“Advokasi itu bukan cuma protes, tetapi usaha mendorong perubahan agar kebiasaan baik mendapat dukungan sistem,” ujarnya.

Ia berharap, mahasiswa yang mengikuti penjaringan Eco Ranger dapat menjadi penggerak dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus.

“Eco Ranger bukan hanya orang yang tahu membuat kompos, tetapi mampu mengubah sisa dapur menjadi gerakan lingkungan,” tutupnya.***