NusantaraInsight, Makassar — Beberapa grup whatsapp Rabu (8/4/2026) malam menyiarkan berita duka. Dr.dr.Rachmat Latief, Sp.Pd.-KPTI, FINASIM, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan periode 2008-2018 berpulang ke rakhmatullah.
Sebelum menarik napasnya yang terakhir, almarhum dirawat di RS Primaya. Tepat pukul 16.00 Wita, Rabu (8/4/2026) lulusan dokter umum Unhas tahun 1985 itu, menghadap Al Khalik.
Mengenang almarhum, saya memiliki tiga kenangan tidak terlupakan dan hingga kini selalu dan tetap ingat.
Pertama, ketika menjadi mahasiswa baru pada akhir 1970-an (antara 1977-1978 mungkin), Rachmat Latief termasuk salah seorang mahasiswa yang saya ajar untuk mata Kuliah Bahasa Indonesia.
Pada waktu itu, saya yang baru meraih gelar sarjana muda lengkap, “Bachelor of Arts” (B.A.) diberi kesempatan mengajar. Dosen saya, mendiang Drs. Abd. Kadir B., memberi kesempatan mengajar Bahasa Indonesia kapada para mahasiswa baru lintas fakultas di Unhas.
Selain Mahasiswa Fakultas Kedokteran, juga ada dari Fakultas Pertanian, dan Fakultas MIPA. Beberapa di antara mahasiswa saya itu sudah menjabat guru besar (profesor), sementara dosennya tertahan pada gelar akademik tertinggi, doktor, bukan jabatan akademik puncak.
Kedua, kejadiannya sekitar tahun 1979-1980. Saat itu, Rachmat Latief menjadi salah seorang anggota Panitia Pekan Orientasi Studi Mahasiswa (Posma) Fakultas Kedokteran Unhas.
Acara Posma ketika itu masih beraroma Masa Perkenalan Mahasiswa (Mapram), sehingga bernuansa kekerasan terhadap mahasiswa baru.
Mengetahui ada kegiatan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran di Aula Kedokteran di dekat Rektorat Unhas Kampus Baraya, saya yang sudah beberapa tahun menjadi wartawan umum dan Penerbitan Kampus “Identitas” Unhas, berjalan-jalan ke Aula Kedokteran hendak menyaksikan acara tersebut.
Tiba di depan Aula Fakultas Kedokteran, ternyata pintu lokasi kegiatan tertutup rapat. Saya mengetuk pintu. Seorang yang kemudian saya kenal sebagai mahasiswa yang pernah saya ajar nongol di balik pintu.
“Boleh saya masuk?,” saya bertanya kepada seorang pria yang juga “bestie” dari Rachmat Latief.
“Tidak boleh masuk,” jawabnya.
“Mengapa tidak boleh?,” usut saya tidak mau kalah.
“Dilarang!,” jawabnya pendek.
“Siapa yang larang?,” desak saya.
“Ketua Seksi Acara!,” sahutnya lagi.
“Siapa Ketua Seksi Acara?,” saya terus mencecar, habis lagi “galak-galaknya” menjadi wartawan dan merangkap mahasiswa “karatan” karena sudah kelamaan menjadi mahasiswa.
“Itu, dia lagi berbicara,” katanya lagi, masih tidak mau menyebut namanya karena mungkin tahu saya mengenal dia.













