Obituari Dr.dr.H. Rachmat Latief,Sp.PD-KPTI, FINASIM: Tiga Momen Tak Terlupakan

Ketiga, suatu malam, sebelum menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, ya, sekitar tahun 2005, saya menyambangi tempat praktiknya di Jl. Arief Rahman Hakim No.4 (di jalan poros ke Kompleks Ujungpandang Plan/Baru). Waktu itu, saya datang mengantar ayah untuk memeriksakan kesehatannya sebelum melanjutkan perjalanan mengunjungi adik Nurhayati, yang menikah dengan pria asal Sulawesi Tengah.

Setelah memeriksa ayah, dr.Rachmat memanggil saya dan memberi tahu.

“Kak, batalkan kepergian bapak ke Palu, langsung bawa Bapak ke RS Ibnu Sina. Hb-(hemoglobin)-nya sangat rendah,” dr.Rachmat memberi tahu.

Dari tempat praktik dr.Rachmat, saya dan istri langsung mengantar ayah ke rumah sakit yang ditunjuk. Ayah terpaksa diopname beberapa hari di rumah sakit yang pernah dipimpin Prof.dr. Andi Husni Tanra, Ph.D..,Sp.An.tersebut. Keberangkatan ke Palu tidak masuk lagi dalam agenda dan dibatalkan.

Prof.dr. H.A.M.Akil (almarhum) akhirnya menangani kesehatan ayah dengan melakukan endoskopi, yakni pemeriksaan dengan selang kamera ke lambung. Caranya, selang yang di ujungnya terpasang kamera mini dimasukkan melalui mulut ayah dan dari luar didorong hingga melewati kerongkongan dan tiba di lambung. Saya menyaksikan hasil potret kamera kecil itu di layar komputer yang juga bisa dilihat oleh pasien (ayah).

BACA JUGA:  Kekerasan Seksual Pada Anak, Sampai Kapan Berakhir?

Namun, baik saya maupun ayah, jelas tidak paham terjadinya luka pada lambung tersebut. Hanya Prof. Akil yang paham.

Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa terjadi “ulkus pepticum” (luka pada lapisan dalam lambung) atau “duodenum” (usus halus akibat terkikisnya lapisan pelindung oleh asam lambung). Prof. Akil pun pun memberikan resep untuk menyembuhkan luka yang terjadi pada lambung ayah.

Alhamdulillah, Hb ayah yang semula hanya berkisar 5, bisa naik hingga 11-12, mendekati normal (13,3-17,5 untuk pria dewasa). Ayah pun batal ke Palu dan kembali ke Bima setelah adik Nurhayati yang datang dari Palu ke Makassar.

Hb adalah protein kaya zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh serta membawa kembali karbon dioksida ke paru-paru. Fungsi Hb, untuk kepentingan transportasi oksigen ke seluruh tubuh, transportasi karbon dioksida, dan memberi warna merah pada darah.

Setelah diopname di RS Ibnu Sina, Prof. Akil kerap bertanya mengenai keadaan ayah bila bertemu dengan saya di kampus sebelum beliau meninggal.

BACA JUGA:  SEPUTAR BERTANYA DAN PERTANYAAN

Begitu pun ayah tetap mengirim salam takzim kepada Prof. Akil hingga suatu hari saya memberi tahu ayah bahwa Prof. Akil telah berpulang. Mendengar berita duka itu, ayah langsung mengangkat tangannya, bedoa dan membacakan surah Al Fatihah untuk almarhum Prof.

Informasi yang sama juga terjadi antara saya dengan dr.Rachmat Latief pasca-opname ayah tersebut. Rachmat Latief kerap bertanya mengenai ayah, begitu pun sebaliknya. Ayah selalu bertanya perihal dokter yang pernah memeriksanya menjelang ke Palu yang batal itu.

Kamis (9/4/2026) melalui adik Hj Sri Suharni, nomor telepon genggam, (gawai)-nya, sedang tidak aktif. Saya kemudian mengirim pesan WA melalui nomor telepon adik Sri Suharni dengan harapan dia dapat membacakan pesan itu kepada ayah. Ayah sejak dua bulan terakhir praktis tidak bisa lagi membaca yang menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya.

Pada pukul 23.00 Wita, tiba-tiba adik Sri melakukan video call (VC). Saya pun memberi tahu ada pesan yang saya dikirim.

“Tadi sudah diberi tahu. Abu sudah mendoakan dan membacakan Al Fatihah untuk almarhum,” kata adik Sri.

BACA JUGA:  MENGAPA DONALD TRUMP MENANG? Dan Apa Efeknya Buat Indonesia?

Mendengar suara saya, Ayah pun mengambil gawai adik Sri dan saya memberi tahu.