Obituari: PERUPA ANZUL TELAH PERGI, BILA GARAM TAK ASIN LAGI

Oleh: Goenawan Monoharto

NusantaraInsight, Makassar — Dua hari sebelum Lebaran, ternyata pertemuan akhir dari sahabat Anzul (Syamsul Bachri).

Siang itu, ia memakai jaket, dengan suara seperti sulit dikeluarkan. Ia lebih sedikit berbicara dibanding biasanya.

Anzul hanya bercerita tentang seminggu buka puasa dengan kawan-kawan perupa lainnya di Jl. Bau Mangga.

Saat itu saya meminta dibuatkan cover buku Rekam Jejak KAMAR PERTEMUAN SENIMAN, 19 Djuni 1969 di Benteng Udjung Pandang, Makassar, dengan gaya Kampung Garam.

Saya heran, biasanya ia menyambut dengan antusias dan bersemangat, namun kali ini, ia tidak mengiakan, hanya saya saja yang mendesak.

Hampir sejam saya mengobrol, kendati lebih banyak saya yang berbicara.

Kemudian datang kawan Rusdin Tompo, maka kami bertiga bercakap. Anzul pasif berbicara, bahwa ia sementara periksa penyakitnya di Puskesmas, namun belum keluar hasil pemeriksaannya.

Hari Minggu, pukul 15.00 lebih, saya sontak kaget ketika mendapat kabar dari Dewi Ritayana dengan sesunggukan bahwa Anzul meninggal dunia.

Betapa “garana” nyawa ini pergi, bila sudah tiba waktunya.

BACA JUGA:  Catatan Dibuang Sayang: Saya: "No Smoking..."

Mengenang beliau ketika saya menulis di majalah MACCA edisi November 2021 berkaitan dengan karya instalasi MENGENANG LEANG-LEANG di Benteng Fort Rotterdam, 12 s/d 19 November 2021.

Anzul dikenal sebagai perupa Kampung Garam. kembali menggelar karya instalasi.

Kali ini ia akan membangun seni instalasi yang spektakuler dan fantastik. Judulnya Home #5 merupakan rangkaian dari beberapa karya sebelumnya terinspirasi dengan Leang-Leang.

“Leang-leang titik nol senirupa dunia,” kata Anzul.

Spirit Leang-leang, Melampaui Rupa, Memaknai Nilai Sejarah merupakan tema besar dari pameran seni instalasi yang diselenggarakan komunitas perupa Makassar Art Initiative Movement (MAIM).

Balik pada karya seni instalasi Anzul, tercerah konsep untuk karyanya itu, sebagaimana dikatakannya, bermula dijatuhi sebuah sarang yang unik bentuknya, setelah diamati, ia juga tak tahu burung jenis apa yang empunya sarang.

Bermula dari situlah konsep dan gagasannya lahir untuk karyanya dipadukan Leang-Leang yang ada dalam mimpinya.

Kemudian ia mengamati dan mulai memproses dan menggambar sarang tersebut dengan ukuran yang cukup besar.

BACA JUGA:  Cerita di Balik Syuting Program Inspirasi Indonesia TVRI Pusat di Desa Paddinging, Kabupaten Takalar

Mulailah ia mengerjakan karyanya dengan memakai material bambu dan dianyam seperti sarang. Ia mengerjakan karyanya di Benteng Somba Opu sebagai tempat ia berkarya tahun-tahun lampau.

Jika ditarik tali penghubung maka Anzul dalam berkarya berada di lingkaran Segi Tiga Emas. Ia terinspirasi dengan Spirit Leang-Leang yang merupakan titik nol seni rupa dunia dan memproses karyanya di Benteng Somba Opu yang merupakan Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa dan memamerkan di Benteng Fort Rotterdam.