Setelah non aktif di Dewan Kesenian Makassar, Anzul bergabung di Yayasan Findart Space di daerah Antang, Makassar, yang kerap melaksanakan workshop bagi anak sekolah, membuat seni kriya dan lainnya.
Sejak 2018 Choy aktif di Makassar Art Inititive Movement (MAIM).
Di masa kanak-kanak, ia memang suka menggambar. Meski pada awalnya, sebagai anak pesisir ia hanya menggambar di pasir.
Dari tepi pantai, ia mulai mengenal laut, kapal, ikan, udang, kepiting, bakau yang semuanya mengendap ke alam bawah sadarnya.
Saat SMA, Anzul mulai ikut membuat dekor dan janur pengantin.
Muasal awal riwayat penemuan ide ‘Kampung Garam’. Konsep karya yang selanjutnya konsisten dieksplorasinya.
“Saya hanya mengambil dari peristiwa yang saya alami sendiri, ada di sekitar saya, apa yang saya rasakan dan paling mudah saya wujudkan jadi karya.” Lanjut Anzul bercerita.
Pengalamannya bermula ketika sang istri yang ia nikahi pada hari Bahari Nasional, saban kali menyajikan menu telur dadar maka Anzul selalu kebagian potongan telur di mana garamnya berkumpul. Itu yang membuat wacana garam melekat dalam benak ayah dua putri ini.
Lalu tentang pilihan konsep “Kampung Garam” itu kian mantap dan menguat sepulang dari Baloyya, Selayar. Saat itu Anzul baru saja turut membantu mengerjakan artistik karya Tugas Akhir S2 Penciptaan sahabatnya Hamrin Samad.
Pada sekira pukul 2 siang, terik, rombongan mobil yang ditumpangi tiba-tiba berhenti di Jeneponto tepat di daerah yang terkenal sebagai sentra produksi garam rakyat.
Saat turun dari mobil, Anzul menghirup aroma ladang garam yang merasuki tubuhnya. Lalu merenungkan tentang garam dan manfaatnya.
Anzul pun merasakan persinggahan di ladang garam Jeneponto itu tidaklah hanya menuai panas, gersang, dan gerah. Ia justru menuai rasa dan hal sebaliknya, seperti ada kupu-kupu yang membawa es batu yang membuat rasa sejuk. Itulah tumpuan dasar ide konsepnya.
“Saya mesti membuat karya yang menyejukkan hati orang lain” Kilahnya.
Jadilah Anzul juragan “Kampung Garam.”
Sebagai perupa autodidak ia serius berupaya mematangkan konsep kerjanya dengan intens berdiskusi bersama sahabatnya Ahmad Fauzi, Budi Haryawan, seniornya Amrulah Syam, Ishakim, Asdar Muis RMS dan sejumlah aktivis perupa, pegiat seni pertunjukan Makassar lainnya.
Anzul berkarya serius. Karya-karya yang lain banyak menjadi cover buku terbitan De La Macca dan Garis Khatulistiwa termasuk Majalah Macca edisi Novermber 2021.
Anzul juga bercerita bahwa hingga kini ia telah menyelesaikan sejumlah karya. Di antaranya ada tentang karya instalasi ikan asin kering yang dipajang pada karyanya karena itulah panganan pertama yang diasup anaknya ketika berumur 5 bulan.
Berpameran pada “Makassar Art Forum 99”; Menampilkan karya di Stasiun 9 – Festival Kampung Mangasa diinisiasi perupa Rimba Kasumba; Menyajikan seni pertunjukan “Kampung Garam” di halaman depan rumah Asdar Muis di Sudiang; Melalang ke Bali atas undangan seniman tari Prapto Surtodarmo untuk pertunjukan ritual “ Segenggam Tanah” (Trilogi: Tanah) ia membawa tanah, menanam pohon rambutan dan kelapa pada Collaboration Asia-Eropa in Art and Environment di Tejakula, Singaraja 2000; Pameran seni rupa “Kalimantan Art Exibition II”, di Hotel Dusit, Balikpapan, 2005; Bersama Amrullah Syam mengerjakan patung tiga tokoh dunia, Nelson Mandela, Syech Yusuf Almakassary, Mahatma Gandhi di Anjungan Pantai Losari tahun 2016; Tampil dalam Makassar Biennale 2017 dan 2019.
Anzul pernah pula pameran 999 karya lukis di Gallery de La Macca.
Pada pameran tanggal 5 Juli hingga 5 September 2021, event yang diprakarsai L Project dalam Indonesia Art Expo 2021, Anzul memamerkan karya lukis abstrak yang berjudul “Energi Balance # 2”, “Tiga Batu”, “Bayang, Garis dan Saya” “Spirit Carries On #2, “Hope”Raja. Semua karya tahun 2021.












