Sudah lima tahun menjadi preman, suatu malam Borahima tertunduk merenung. Tiba-tiba muncul perasaannya ingin keluar dari dunia hitam ini. Namun hal itu tak mungkin lagi dilakukan. Borahima sudah terikat “kode etik” dunia preman Pasar Sentral. Komandan premannya akan membunuhnya bila dia ingin berlari dan meninggalkan wilayah ini. *****
FIKSI MINI (11): Preman dan Majikan Seorang Tionghoa
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

“Mereka sangat berani mengangkangi aturan-aturan di negeri ini, ya?” Dani tersenyum. Menepuk pundak saya, lalu berbisik ke telinga saya: “Mereka berani lantaran punya uang membeli aturan dan pejabat-pejabatnya.” Saya diam….

“Pasti aku datang, Pak Haji.” Dindong merespon ajakan Haji Beni dengan raut wajah senyum terkulum sembari tertunduk hormat. Sekitar pukul delapan malam, Dindong memenuhi janjinya. Dia tak perlu mengetuk pintu….

“Sudahlah, Ma.” “Saya menyesal memilih dia dulu saat pemilihan wali kota, Pa.” “Tidak boleh begitu, Ma. Setiap wali kota memang berbeda visinya. Ada Pak Wali membiarkan tumbuh para pedagang kaki…

Oleh Andi Wanua Tangke Badaru, mantan gubernur di sebuah negeri. Sepuluh tahun berkuasa. Dua periode. Disenangi rakyatnya. Ada juga rakyat tak menyenanginya. Bila rakyat tak menyenangi kebijakannya itu mengkritiknya, tampillah…

—————- Catatan: Cerita ini hasil revisi. Sebelumnya pernah dimuat di media. Berita Terkait FIKSI MINI (17): Menteri Tak Tahu, Tuhan Tahu FIKSI MINI (16): Selingkuh Berujung Darah FIKSI MINI…







