PGRI Bulukumba Dorong Guru Kuasai Gamifikasi dan Deep Learning, Phinisi Diusulkan Masuk Muatan Lokal

UNM Apresiasi Langkah PGRI Bulukumba

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Universitas Negeri Makassar (UNM).

Sekretaris Program Profesi Guru (PPG) UNM, Prof. Dr. Ahmad Syawaluddin, S.Kom., M.Pd., turut memberikan sambutan secara virtual melalui aplikasi Zoom.

Meski tidak hadir secara langsung di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, kehadirannya secara daring menjadi bentuk dukungan terhadap langkah PGRI Bulukumba dalam meningkatkan kompetensi guru.

Prof. Ahmad Syawaluddin memberikan apresiasi terhadap inisiatif PGRI Bulukumba yang dinilai responsif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan paradigma pembelajaran.

Menurutnya, perpaduan antara gamifikasi dan pembelajaran mendalam dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menarik, sekaligus mendorong keterlibatan aktif peserta didik.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga dituntut mampu merancang pengalaman belajar yang membuat peserta didik berpikir, bereksplorasi, berkolaborasi, dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.

Dari Phinisi hingga Teknologi, Guru Ditantang Berinovasi

Workshop ini sekaligus memperlihatkan arah baru pendidikan di Bulukumba: memadukan teknologi modern dengan kekuatan budaya lokal.

BACA JUGA:  PGRI Bantaeng Turunkan Ribuan Peserta, Siap Tampil Maksimal di Porsenijar 2026 Sidrap 

Gamifikasi dan deep learning menjadi pintu masuk untuk melahirkan pembelajaran yang lebih kreatif. Sementara Phinisi menjadi salah satu sumber belajar yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bulukumba.

Jika gagasan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah, siswa tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga dari lingkungan, sejarah, budaya, dan potensi daerahnya sendiri.

PGRI Bulukumba pun menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas guru dan pendidikan di daerah berjuluk Bumi Panritalopi tersebut.

Sebab, pendidikan yang maju bukan berarti meninggalkan identitas daerah. Sebaliknya, kemajuan teknologi dapat menjadi kendaraan untuk membawa nilai-nilai lokal Bulukumba semakin dekat dengan generasi muda