Perlu digarisbawahi bahwa cerita-cerita rakyat, dongeng, fabel, mite dan sejenisnya mengandung apa yang oleh David McClelland disimbolkan dengan “n-Ach”. Kesimpulan McClelland sebagai psikolog sosial terhadap adanya virus butuh berprestasi atau the need for achievement, diambil setelah dia melakukan kajian terhadap cerita anak di Inggris pada awal Abad XVI serta dongeng dan cerita anak di Spanyol. Untuk menguatkan argumentasinya, dia lalu melakukan penelitian sejarah terhadap dokumen-dokumen kesusasteraan dari era Yunani Kuno, seperti puisi, drama, pidato penguburan, surat-surat yang ditulis para nakhoda kapal, kisah epik, dan sebagainya (Ismail Marahimin, dalam Titi WS, dkk, 2003).
Menurutnya, karya-karya sastra yang mengandung optimisme tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan tidak cepat menyerah, berarti punya nilai “n-Ach” yang tinggi. Merujuk pada tesis McClelland ini, dapat dikatakan bahwa karya-karya sastra di Sulawesi Selatan, seperti epos I La Galigo, termasuk dalam kategori ini. Kisah Sawerigading yang berlayar dengan perahu Pinisi menjemput cintanya, We Cudai, menunjukkan semangat meraih impian, tak gentar menghadapi tantangan, dan berani menyeberangi badai samudra. Tak heran bila ada banyak diaspora Sulawesi Selatan di Indonesia, serta Asia Tenggara. Orang-orang Sulawesi Selatan bahkan sudah menjangkau benua Australia dan Afrika, sejak ratusan tahun lalu.
Manuskrip I La Galigo yang panjangnya 300.000 bait—terpilah dalam 12 jilid (6.000 halaman) yang setiap halamannya memuat sekira 50 baris—dengan muatan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan sosial budaya, pengobatan dan kesehatan, bahkan religi, memang perlu didekatkan kepada anak-anak sebagai salah satu upaya pemajuan kebudayaan. Anak-anak perlu diperkenalkan pada karya-karya sastra dengan pendekatan yang kreatif. Karya sastra yang penuh imajinasi, perlu ditafsir dan dialihwahanakan dalam ragam platform media.
Bahar Merdu, sependek pengetahuan saya, telah menunjukkan perhatian pada minat dan bakat anak-anak di bidang teater. Teater GRISBON merupakan buktinya. Lelaki kelahiran Makassar, tahun 1964 ini, mengelola teater anak tersebut dengan tekun. Itu apresiasi saya kepadanya. Tidak banyak orang yang intens membina dan memanggungkan anak-anak dalam pertunjukan mereka.
Biasanya, pertunjukan teater atau drama yang melibatkan anak-anak hanya dilakukan temporer dan sporadis. Anak-anak diajak terlibat kalau ada kegiatan tertentu di sekolah, ada lomba, atau pada saat perayaan pesta rakyat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus. Tentu model penyaluran berkesenian serupa ini, belum dapat menjadi tolok ukur gerakan kebudayaan. Sebab, sekalipun ada aktivitas berkesenian, tapi tidak dirancang dengan strategi tertentu.













