Dunia Anak, Teater, dan Kerja Kultural Seorang Bahar Merdu

 

Dengan begitu, tak dapat disangkal, bahwa anak-anak mampu berpartisipasi dalam gerakan pemajuan kebudayaan sesuai usia dan kematangannya. Jadi, pilihan dan keikutsertaan anak-anak dalam teater atau jenis cabang kesenian lainnya, bukan sekadar menyalurkan minat dan bakatnya. Di sana pandangan-pandangannya tersalurkan, ekspresinya tersampaikan, dan pendapatnya menemukan wadah yang selaras suara hatinya. Dengan cara berkesenian, seperti dengan menulis puisi, cerpen, termasuk bermain teater, ia menegaskan eksistensinya.

Ketika berteater anak-anak akan terlatih berpikir kritis lewat naskah-naskah yang dipentaskan. Mereka akan dekat dengan bacaan karena ada sesi reading. Mereka belajar dialog, berkomunikasi, untuk menyampaikan pesan secara kuat dan tepat. Itu juga kegiatan literasi, yakni literasi budaya dan kewargaan.

Lebih dari itu, mereka belajar bagaimana bekerja dalam tim, menjaga kekompakan dan keharmonisan, demi mencapai tujuan bersama, yakni suksesnya pementasan. Ada nilai-nilai di sana yang akan terbawa dalam diri anak-anak yang berteater. Ada kebanggaan, rasa percaya diri dan tentu saja harga diri. Itu baru nilai-nilai dari sisi proses, belum lagi nilai-nilai yang diusung dalam cerita yang dipentaskan. Ada nilai budaya, juga gerakan advokasi.

BACA JUGA:  MENGAPA PENGHARGAAN SASTRA DARI BRICS DAPAT SEJAJAR DENGAN NOBEL SASTRA

Kisah sukses menggunakan teater sebagai sarana advokasi bisa dilihat pada Bela Studio yang membela anak-anak lewat teater. Bela Studio merupakan kelompok teater anak-anak di sebuah kampung di Rawamangun, Jakarta Timur. Kelompok teater ini dipimpin oleh Edi Haryono, yang pernah bergabung dengan WS Rendra di Bengkel Teater, Yogyakarta.

Mereka menampilkan cerita-cerita yang menggugah sekaligus menggugat dengan cara sederhana dan satir. Judul-judul pementasan drama musikalnya terasa ringan, seperti “Tikar”, “Be-Be (Belajar Bicara)”, “Tamasya ke Cakrawala”, “Rebutan”, “Ojek Payung”, dan “Siapa Belum Mandi?” (MJA Nashir, 2001). Mereka tampil di berbagai panggung sampai stasiun televisi.

Walau begitu, sesungguhnya teater ini tidak hidup dalam gemerlap selebritas. Sebaliknya, mereka mengungkap kenyataan hidup anak-anak yang tinggal di lorong-lorong sumpek dan sempit. Tidak ada tempat bermain. Motorik halus anak tidak terbentuk. Anak-anak kemudian mengalami rabun jauh akibat menonton  TV terlalu dekat. Pasalnya, mereka tinggal di rumah-rumah yang kecil, dan sesak.

Potret miris kehidupan anak-anak yang diolah dan dibawa ke panggung teater itu, dalam konteks hot issue, menyuguhkan problem kemiskinin, tiadanya ruang publik dan ruang bermain ramah anak, serta marginalisasi dan potret pembangunan yang diskriminatif. Dari pemberdayaan dengan pendekatan teater yang dilakukan Bela Studio, tergambarkan bahwa persoalan-persoalan anak, termasuk pembelajaran mereka di sekolah, banyak terkait dengan lingkungan sekitar anak-anak itu berada.