Om Nasihati Keponakan di DKSS: Ketika Perempuan Bercerita Tentang Perempuan

Om nasihati keponakan
Yudhistira Sukatanya menerima buku dari Mira Pasolong

Makassar, NusantaraInsight — “ini om nasihati keponakan. Saatnya kamu lepas dari genre kepenulisan seperti ini, agar kamu bisa dikenang. Tulislah cerita tentang kampung halamanmu, karena tulisan yang seperti ini yang akan abadi,” nasihat Eddy Thamrin yang lebih dikenal dengan nama panggung Yudhistira Sukatanya kepada keponakannya yang juga penulis Mira Pasolong.

Ini disampaikan Yudhistira saat memberikan closing statement saat diskusi buku Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya karya Mira Pasolong di Sekretariat Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) Saopanrita, Jalan Malengkeri No. 2, depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Parangtambung Makassar, Sabtu (30/5/2026).

Sebelumnya ia membedah buku antologi cerpen yang berisi 13 buah cerpen dengan judul ulasan Ketika Perempuan Bercerita Tentang Perempuan.

Yudhistira menyampaikan pendapat sastranya tentang buku yang diterbitkan Arya Pustaka Jl. Kemauan V No.17 Makassar, Sulawesi Selatan ini tentang sensasi apa yang sesungguhnya terjadi?

“Saya berusaha mengulik beberapa sensasi, dari file Pdf kumpulan cerpen “Perempuan Yang Mengatupkan Resah di Bibirnya“ yang dikirim oleh Penyair Muhammad Amir Jaya via Whatsapp;
Pada Kumcer itu, ada 13 judul yang rerata fokus mengelaborasi tema Perempuan. Lalu bagaimana; Ketika Perempuan bercerita pendek tentang Perempuan. Simak cerita pendek “Perempuan Yang Mengatupkan Resah Di Bibirnya” ada di halaman 1. Paragraf pembukanya begini,” tulisnya.

BACA JUGA:  "Silajara Connection" Mencuat Saat Bahas Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya

“Perempuan itu selalu terlihat baik-baik saja. Ia mengeringkan rambut panjang hitamnya dengan handuk kecil. Ia tidak pernah pakai alat pengering rambut. Tak ingin rambut indahnya rusak terpapar panas buatan itu. Tubuhnya menggigil. Pagi yang cerah sebenarnya, tetapi demam yang melandanya sejak semalam membuatnya kedinginan. Mestinya ia tidak boleh mandi, apalagi keramas. Namun, apa yang sanggup dilakukan perempuan itu bila lelakinya mewajibkannya? Ia tahu, itu memang tugasnya.”

Nah, seperti ini adalah pemahaman bersama kaum perempuan yang cenderung lebih mudah mendiskripsi pengalaman hormonal, psikologis, atau sosial yang spesifik dialami Perempuan dengan detil yang baik.

Lanjut ke paragraf 5 dan 6

“Siapa yang melarang laki-laki memasak? Bahkan saat ini, di restoran-restoran terkemuka, sebagian besar chef-nya adalah laki-laki. Siapa pula yang melarang perempuan jadi mekanik mobil? Tak ada. Mereka boleh, selagi mampu. Namun berbeda dengan perempuan itu. Ia harus rela melarung cita-cita masa kecilnya. Ia pasrah hanya menjadikan ijazah sarjananya sebagai pemanis map ijazah di lemari. Pekerjaan utamanya kini tak membutuhkan itu semua.