Cerita ini,menyusup diantara 13 lainnya. Sub temanya: Money politic.
“………….Namun aku tidak suka perlakuan lelaki itu terhadap kami, dua perempuan yang tiba-tiba saja menjadi tak berdaya.” ( Halaman 20 – 21 )
Money politic. Permainan iming-iming, tipu daya yang lazim terjadi di ajang kontestasi politik. Dan sebagaimana biasa warga, rakyat kecil menjadi bidak mainannya. Dengan tiga lembar uang merah dan selembar sarung dijadikan pukat pengumpul suara.
Sayang endingnya ini kurang menyentak perasaan, simak penggalan kalimat ini; “Perempuan yang kukira dermawan itu mengambilnya kembali sebelum pergi. Bunyi krek membuatku tersentak. Sobekan di sarung bertambah lagi.“
Haru biru perasaan yang diharapkan menyentak, menjadi sangat cair. Sangat biasa. Padahal ada sisi yang menarik misalnya dengan membuat kontradiksi yang lebih menarik, andai yang diserahkan itu sembako yang dapat dikonsumsi sehari dua, maka ketika gagal memperolehnya maka akan menyebabkannya sang wanita dan anaknya yang masih kecil dan piatu “wajib puasa“
Sebagaimana dua cerpen terdahulu dan beberapa cerpen lainnya, penulis masih kurang menggarap pendalaman karakter tokoh secara lebih detil. Termasuk dalam pengenalan setting, penajaman terbilang sangat minim. Ini mungkin juga siasat, untuk menembus media mainstream tertentu, karena secara sepihak diberlakukan batas panjang tulisan hanya memperbolehkan 358 karakter. Atau siasat sasaran segmen pembaca?
Tiga cerpen tadi, sepertinya hanya bisa menjadi sampel dari sensasi yang coba saya adop, bagaimana secara umum. Dengan hadirnya PYMRB sesungguhnya memperlihatkan bahwa ada upaya serius si penulis untuk mengangkat tema perempuan.
Disisi lain, ketika penceritaan dalam cerpen di antologi solo ini lebih ingin dicermati maka dari sisi teknis, masih ditemukan beberapa kebocoran logika yang perlu ditambal dengan cermat, unik dan kalau bisa lebih mengejutkan. Selain itu, penting kesadaran bahwa seberapa kenal kita dengan tokoh, setting, karakter dan lainnya, tidak otomatis pembaca mengenalnya seperti itu. Sensasi itulah yang terjadi pada PYMRB.
“Lepas dari ungkapan saya diatas. Tetap dapat dipercaya bahwa Mira Pasolong adalah salah seorang dari sedikit cerpenis wanita berbakat besar yang menjanjikan masa depan keberlajutan dinamika sastra Indonesia. Aamiiin Ya Rabbal alamin.,” tandasnya.













