Ia sungguh resah. Merasa tak melakukan apa-apa, tetapi jiwa raganya lelah“
Lalu penutupnya di beberapa kalimat paragraf akhir:
……… Suaminya menatapnya dalam, tepat di mata kejoranya. Mata itu bening, cerah. Tak ada resah. Suaminya tersenyum, dibalas anggukan kecil olehnya. Ia begitu lihai bersembunyi di balik bibir yang selalu merekahkan senyum manis.
Ungkapan diatas menunjukkan empati keperempuanan dan upaya membuka sedikit katup resahnya. Nyaris tanpa konflik tajam antar karakter, yang mengakibatkan cerita cenderung datar.
Perhatikan snap shot berikut dari cerita kedua; “Perempuan“ halaman 9 disini ada konflik pada bagian awal yang coba menjadi tulang punggung cerita.
“Tolong berhenti membujukku.”
“Kau dibutuhkan.”
“So?”
“Hargai niat baik mereka.”
“Hargai pula pendirianku. That’s not my passion.”
“Perlukah mempertimbangkan passion untuk melakukan suatu kebaikan?”
“Kau yakin ini suatu kebaikan? Saya justru melihat sesuatu yang abu-abu. Buram.”
Hening. Hanya suara nafas memburu keduanya yang terdengar. Cafe bernuansa hitam putih itu sudah lama kosong. Pemilik cafe sejak tadi ingin memberitahu bahwa mereka sudah tutup. Namun diskusi yang memanas itu sayang untuk diputus begitu saja.
Plot yang begitu kencang tiba-tiba di cut off. Sampai pada bagian ini pembaca seperti di suguhi drama pendek di tiktok. Benturan dengan peran patrilineal yang sudah relative usang – Dalam lingkungan keluarga atau sosial tertentu, apakah “pemaksaan“ saran untuk peran perempuan dalam kehidupan pribadinya, masih relevan. Karier yang mungkin saja cerah, bisa jadi justru dianggap melelahkan, jika tidak ditemukan kesesuaiam dengan passionnya.
Memang pada banyak kehidupan keluarga seringkali dijumpai konflik akibat cara berkomunikasi interelasi yang kurang baik.
Pada cerpen kedua ini, boleh dikata kurang informatif. Tidak ditemukan berapa usia masing-masing pasangan itu, sudah berapa lama menikah, prihal apa yang mendesak untuk perlu menerima pekerjaan yang ditawarkan, sepertinya substansi pemicu konflik yang setengah panas itu masih perlu diolah hingga mencapai taraf mengejutkan, hingga matang benar.
Lalu cerpen ketiga; “Sarung halaman“ 16
Simak snapshot berikut;
Giliranku tiba. Tak ada lagi antrian. Aku menjadi orang terakhir dari lekuk barisan yang sejak beberapa jam lalu mengular. Lelaki berseragam itu tersenyum. Entah prihatin. Entah mengejek. Aku tak sanggup membalas senyumnya. Hatiku sudah terlanjur kecewa melihat meja yang kosong di depan lelaki tersebut.
“Maaf, Bu. Habis,” katanya berat. Aku mengangguk lemah, menyeret langkahku kembali ke rumah.
“Tunggu, Bu.” Suara seseorang dari arah lorong. Seorang perempuan berpenampilan mewah berjalan terburu-buru ke arahku.
Aku menghentikan langkah. “Ibu jangan kecewa. Ini ada sedikit uang bisa untuk membeli sarung.” Ibu dermawan itu mengangsurkan tiga lembar uang merah ke tangan keriputku. Aku tersenyum. Kujabat tangannya erat sambil mengucapkan beribu terima kasih.













