Dunia Anak, Teater, dan Kerja Kultural Seorang Bahar Merdu

Kisah Bela Studio yang saya baca ini, dalam suatu kesempatan, pernah saya ceritakan kepada Bahar Merdu. Sebagai orang teater, dia pasti mengetahuinya. Saya cuma mau berbagi saja, atas kesan mendalam saya terhadap pemanfaatan teater sebagai metode untuk memberdayakan dan membangun kesadaran kritis anak-anak. Oleh Bela Studio, teater juga digunakan sebagai medium menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada anak.

***

Bahar Merdu, lewat teater anak-anak GRISBON sudah lama melakukan kerja kultural melalui teater. Sutradara teater ini bahkan masuk kategori Maestro. Tahun 2019, ia menjadi bagian dari program Belajar Bersama Maestro, yang diadakan Kemendibud RI. Sederet penghargaan pernah diperoleh. Bahar Merdu merupakan penerima Celebes Award 2004, Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater Remaja 2013, Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater Anak-Anak 2015, dan Sutradara Terbaik Festival Nasional Teater 2016.

Karyanya yang ikonik kita jumpai pada rombongan Sandiwara Petta Puang yang dibesutnya. Petta Puang menghadirkan sketsa hidup masyarakat dalam relasi kuasa atasan-bawahan, juragan-jongos, bangsawan-jelata, yang digambarkan secara karikatural dan jenaka. Saya beberapa kali menonton pertunjukan langsungnya di panggung. Idiom-idiom khas Bugis dan Makassar yang dilontarkan oleh para pemain, membuat kita tak kuasa menahan tawa. Walau begitu, terasa pula ada yang menggelitik di kuping. Namun kemasan kritik yang ditampilkannya tetap segar menghibur, tak sampai membuat hati panas.

BACA JUGA:  TENA SILARIANG (Pantang Menyerah): KPJ

Bahar Merdu yang menghimpun anak-anak tetangga di kompleks Griya Barambong ke dalam Teater GRISBON, kali ini memproduksi pertunjukan Teater Anak-Anak berjudul, LA COKI, yang didasarkan pada cerita rakyat “Meongpalo KarellaE”. Kisah kucing dan tikus yang bersumber pada Sureq La Galigo ini akan ikut pentas dalam perhelatan festival multi-event, Makassar International Eight Festival and Forum atau F8 (Food, Fashion, Fusion Music, Film, Fine Art, Fiction Writers, Folks dan Flora-Fauna) yang diadakan Pemkot Makassar, Juli 2024.

Dengan mengangkat kisah kucing belang tiga yang dinukilkan dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, merupakan suatu cara mendekatkan anak-anak pada karya sastra yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Memory of The World oleh UNESCO itu. Tentu, anak-anak tak bakal hanya disuguhkan perseteruan kucing dan tikus layaknya film kartun Tom and Jerry, yang kejar-kejaran membalaskan dendam. Namun ada penggambaran budaya lokal di situ, ada pesan nilai dan kearifan yang diselipkan. Ada pendidikan karakter dengan pendekatan teater yang dinamis.