Oleh: Anwar Nasyaruddin
Makassar, NusantaraInsight — Diskusi terbatas novelet ‘Cinta dan Korupsi’ berlangsung dalam suasana penuh tafsir di rumah pengarang, Dr Suradi Yasil, Perumahan CV Dewi, Jl. Abdulah Daeng Sirua, Makassar pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Ada delapan peserta hadir, dan mereka adalah Ishakim, Arwan Daeng Awing, Dr. Syafruddin Muktamar, H. Andi Wanua Tangke, Ustaz Muhammad Amir Jaya, Rahman Rumaday dan Syahril Rani Patakaki serta dipandu Anwar Nasyaruddin.
Pengarang yang telah berusia 81 tahun, terlebih dahulu memaparkan sinopsis karyanya tentang seorang penyair yang jatuh cinta kepada seorang gadis, anak seorang jenderal yang korup. Cinta itu ternyata berbalas. Sang gadis mencintai penyair melalui puisi-puisinya, sementara sang penyair justru mengingatkan agar kekayaan yang berasal dari korupsi ayahnya tidak dinikmati. Dari titik inilah cerita berkembang menjadi pergulatan antara cinta, harta, moralitas, dan pilihan hidup.
Delapan peserta kemudian bergantian memberikan apresiasi dan catatan kritis. Seorang peserta bahkan memulai dari pertanyaan yang tampak sederhana, mengapa angka delapan dominan dalam diskusi terbatas ini? Peserta lainnya menambahkan, apakah kehadiran delapan peserta ditambah seorang pengarang dalam diskusi hanya kebetulan, atau justru bisa menjadi tafsir tersendiri sama dengan usia pengarang? Pertanyaan tersebut kemudian berkembang kepada pembicaraan tentang gaya tulisan, romantisme, alur, dan latar cerita. Ada peserta melihat kekuatan pada unsur romantisme, tetapi menilai latar belakang cerita masih terasa seperti tempelan dan perlu dilebur lebih kuat ke dalam alur.
Persoalan batin tokoh perempuan menjadi salah satu perhatian yang cukup menonjol. Ia harus menjalani kehidupan sebagai anak seorang koruptor, sementara dirinya sendiri tidak melakukan kesalahan tersebut. Kemudian muncul persoalan psikologis, bagaimana seorang anak menghadapi rasa sakit, malu, atau kekecewaan karena perbuatan orang tuanya? Beberapa peserta melihat bahwa novelet ini sebenarnya memiliki ruang yang luas untuk pendekatan psikologi, karena konflik yang dibangun bukan hanya konflik asmara, juga ada konflik batin dan pencarian jati diri.
Dari sisi sastra, peserta lain menyoroti kekuatan makna yang berada di balik kata. Tokoh penyair dalam cerita dianggap menarik karena puisi menjadi medium cinta sekaligus sarana perjuangan moral. Kata-kata tidak hanya digunakan untuk menyatakan perasaan, tetapi juga untuk menyampaikan sikap terhadap ketidakadilan. Karena itu, muncul harapan agar pengarang terus mengembangkan potensinya dan melahirkan karya yang lebih khas, termasuk karya yang mampu menyentuh sastra tradisi, dan peradaban. Sastra yang kuat bukan sekadar indah dibaca, tetapi mampu meninggalkan jejak dalam kesadaran manusia.












