Diskusi akhirnya memperlihatkan novelet ‘Cinta dan Korupsi’ tidak berhenti sebagai kisah asmara antara seorang penyair dan seorang anak jenderal. Delapan peserta memberikan delapan pintu pandangan yaitu romantisme, psikologi, alur, latar, karakter, spiritualitas, moralitas, dan sastra kontekstual. Mereka mendorong pengarang untuk terus memperdalam karakter, memperkuat latar, mempertajam judul, dan membuka kemungkinan pengembangan karya secara lebih matang, bahkan secara kolektif melalui diskusi.
Ada satu kepahaman yang kemudian mengikat dalam diskusi ini. Karya sastra yang baik seharusnya tidak hanya selesai di halaman buku. Karya sastra semestinya membentuk jiwa, menjaga keagungan manusia, menyuarakan kegelisahan terhadap ketidakadilan, dan menjadi investasi akhirat bagi pengarangnya. Sebab kata-kata yang baik bukan hanya mampu membuat manusia jatuh cinta, tetapi juga mampu mengajaknya memilih jalan kehidupan yang bermartabat.












