Pembicaraan kemudian bergerak pada pertanyaan lebih mendasar, apakah membaca karya sastra dapat mengubah jiwa pembacanya? Sebagian peserta meyakini bahwa karya sastra yang baik dapat membentuk cara seseorang memandang kehidupan. Sebuah cerita mungkin selesai dibaca, tetapi gagasannya terus hidup di dalam pikiran. Dalam konteks Cinta dan Korupsi, pembaca diajak memikirkan cinta, kekayaan, korupsi, keluarga, keadilan, dan pilihan moral. Karena itulah karya tersebut dipandang memiliki karakter sastra kontekstual—karya yang tidak terlepas dari persoalan kehidupan nyata.
Pengarang kemudian mengungkapkan bahwa cerita tersebut terinspirasi dari kehidupan sosial kini. Pernyataan ini membuat diskusi semakin menarik. Peserta menilai pengalaman nyata memang dapat menjadi sumber penting bagi karya sastra, tetapi pengalaman tersebut perlu diolah secara artistik melalui imajinasi.
Latar cerita yang mengambil beberapa tempat dinilai masih membutuhkan pendalaman, demikian pula karakter tokoh. Ada peserta yang berharap setiap tokoh memiliki perkembangan karakter yang lebih kuat sehingga perubahan sikap dan pergulatan batinnya dapat dirasakan pembaca, bukan hanya dijelaskan melalui narasi.
Persoalan setting juga menjadi salah satu catatan. Latar cerita yang mengambil beberapa tempat dinilai masih membutuhkan pendalaman. Mengapa suasana pada setiap peristiwa tidak dibuat lebih berbeda sehingga perubahan emosi dan ketegangan cerita semakin terasa? Peserta berharap latar tidak hanya menjadi lokasi kejadian, tetapi ikut membangun atmosfer cerita.
Di sisi lain, dimensi spiritual juga dianggap masih dapat diperkuat. Imajinasi sastra, menurut salah seorang peserta, dapat menjadi jalan untuk mendekat kepada Tuhan. Pemberontakan jiwa tokoh terhadap ketidakadilan dapat dibaca bukan sekadar sebagai kemarahan, melainkan sebagai kegelisahan moral manusia, ketika berhadapan dengan sesuatu yang dianggap tidak benar.
Judul Cinta dan Korupsi kemudian menjadi pertanyaan tersendiri. Mengapa beberapa karya Dr Suradi Yasil, cinta harus selalu disandingkan dengan sesuatu yang buruk? Judul novelnya yg lain, ‘Cinta dan Kusta’. Pertanyaan itu menunjukkan judul memiliki beban makna yang besar. Ia bukan sekadar identitas karya, tetapi juga pintu masuk pembaca untuk memahami keseluruhan cerita. Karena itu, peserta menyarankan agar pilihan judul benar-benar dikonkretkan dan memiliki hubungan yang kuat dengan konflik serta pesan utama novelet.
Satu gagasan yang mendapat perhatian kuat adalah tidak ada dosa warisan. Anak tidak seharusnya menanggung kesalahan moral yang dilakukan orang tuanya. Tokoh gadis dalam Cinta dan Korupsi justru menjadi menarik karena berada di tengah persoalan tersebut. Ia lahir dari keluarga yang memiliki kekayaan, tetapi kekayaan itu dibayangi korupsi ayahnya. Penyair yang mencintainya tidak sekadar menginginkan cinta, tetapi juga menginginkan agar perempuan yang dicintainya tidak ikut menikmati sesuatu yang secara moral bermasalah. Di titik ini, cinta memperoleh makna yang lebih luas, mencintai berarti menjaga, mengingatkan, dan mengajak kepada pilihan yang benar.












