Umurmengaji

Umurmengaji

_Untuk Bang Maman 4 Agustus 2026_
_Sahabat mu di Jakarta_

Ada usia
yang hanya pandai menghitung lilin.

Ada pula usia
yang mulai mengaji dirinya sendiri.

br

Aku memilih menyebutnya:

Umurmengaji.

Sebab setiap tahun
bukan penambahan angka,
melainkan pengurangan
jarak antara “aku”
dan “Engkau.”

Maka ketika kalender
mengeja 4/8/2026,
aku tidak membaca tanggal.

Aku membaca
sebuah ayat
yang ditulis Tuhan
dengan tinta waktu.

Empat.

Empat adalah
akarlangit.

Tempat kaki belajar
bahwa pohon tak pernah tinggi
karena cabangnya,
tetapi karena kesediaannya
bersembunyi
di dalam tanah.

Semakin dalam akar,
semakin rendah hati.

Semakin rendah hati,
semakin tinggi
langit bersedia memeluk.

Maka fondasi
bukan sebatas tempat berdiri.

Ia adalah
nuraniyangga—
sesuatu yang membuat jiwa
tetap tegak
meski dunia berkali-kali
mengajaknya rebah.

Lalu datanglah…

Delapan.

Angka yang mengajarkan
bahwa hidup
bukan garis lurus.

Ia adalah lingkar
yang tak pernah lelah
mempertemukan kehilangan
dengan penemuan.

Air mata
dengan syukur.

Doa
dengan jawaban.

Gelap
dengan cahaya.

Aku menamainya:

BACA JUGA:  Kritik Sastra: Puisi "Kami Senang Mendaki Bukit-Bukit Rohani" Pulo Lasman Simanjuntak, Layak Diapresiasi Sebagai Karya Sastra Kontemporer Indonesia Berkualitas

Sunyabertasbih.

Sebab justru
di saat dunia paling gaduh,
jiwa menemukan
suara Allah
yang paling bening.

Dan kini…

Empat puluh.

Ah…

Ini bukan usia.

Ini adalah
pulangsempurna.

Sebuah musim
ketika ambisi
pelan-pelan menanggalkan pakaiannya.

Ketika tepuk tangan
tak lagi lebih merdu
daripada bisikan tahajud.

Ketika nama
tak lagi lebih penting
daripada makna.

Empat puluh
adalah saat
jiwa berhenti
mengejar cahaya.

Karena ia sadar,

dirinya sendiri
telah dipanggil
untuk menjadi cahaya.

Bang Maman…

Barangkali Allah
tidak sedang menghadiahimu
umur yang panjang.

Tetapi
umuryangbermakna.

Bukan hidup
yang semakin banyak hari.

Melainkan hari-hari
yang semakin banyak hidup.

Kini kutahu,

mengapa angka empat puluh
sering menjadi ruang
turunnya kebijaksanaan.

Karena pada usia ini
manusia mulai belajar

bahwa kemenangan
bukan menaklukkan siapa-siapa.

Melainkan
berdamai dengan dirinya.

Bahwa perjalanan
bukan lagi tentang
seberapa jauh kaki melangkah.

Tetapi
seberapa dekat hati
kepada Rabb-nya.

Maka hari ini
aku tidak mengucapkan,

“Selamat ulang tahun.”

Aku hanya ingin berdoa,

“Semoga setiap detak usiamu
menjadi detak dzikir.

BACA JUGA:  Perkuat Literasi, "Permata Karya" dan Launching Program Pannyaleori Institut Digelar

Semoga setiap langkahmu
menjadi langkah cahaya.

Semoga setiap tulisanmu
menjadi sedekah makna.

Dan semoga ketika umur telah selesai mengeja dunia,
engkau pulang
bukan sebagai orang yang paling dikenal,
melainkan sebagai hamba
yang paling dikenal oleh Allah.”

Karena pada akhirnya,

brbr
brbr
br