Segera !!! Jejak Waktu dalam Sarung Hadir di Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang “Daya Ruang”

Polman, NusantaraInsight – Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang “Daya Ruang” menghadirkan pertunjukan performance art bertajuk “Jejak Waktu dalam Sarung” karya Dr. Drs. Asia Ramli Prapanca, M.Pd., Sabtu (25/7) pukul 20.00 WITA di UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Buttu Ciping, Batulaya, Tinambung, Polewali Mandar (Polman)

Festival yang diinisiasi oleh Dalif, seniman teater asal Polewali Mandar, merupakan bagian dari program yang didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan LPDP, bekerja sama dengan UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat.

br

“Jejak Waktu dalam Sarung” merupakan pengembangan dari karya “Kedatangan dalam Bungkusan” yang pernah dipentaskan pada Kuala Lumpur International Festival Monolog 5 Negara (2015) dan kembali dipresentasikan dalam Makassar Biennale 2025 di sejumlah ruang publik Kota Makassar.

Pada Festival Seni Ruang Publik tahun ini, pertunjukan tersebut dikembangkan menjadi karya yang melibatkan interaksi langsung dengan penonton.

Performance ini dimainkan oleh Asia Ramli Prapanca, Dalif, Muh. Ishaq, Muh. Rifai, Yulianti Tahir, dan Suraedah, dengan dukungan tata grafis Zulkifli Siddik, tata suara Acchit Rhezeck Sound, serta kolaborasi Komunitas Budaya Sossorang, Komunitas Sureq Bolong, Latte Art, Smansana, Pensil2B, Rhezeck, dan Sohibu Baiti.

BACA JUGA:  La Ruhe Sajikan Balutan Asmara di Meja Bedah

Menurut Asia Ramli, sarung dipilih sebagai simbol yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam tradisi Mandar, Bugis, Makassar, Buton, Toraja, hingga berbagai masyarakat Nusantara, sarung bukan sekadar pakaian, melainkan ruang budaya yang menyimpan sejarah, identitas, nilai, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Melalui pertunjukan ini, sarung ditafsirkan ulang sebagai sebuah ruang publik yang dapat dibawa ke mana saja.

Bukan hanya benda yang dikenakan tubuh, tetapi medium yang mempertemukan manusia dengan ingatan, tradisi, dan ruang hidupnya. Performance ini juga mengajak penonton mengalami kembali hubungan antara tubuh, ruang, benda, dan memori kolektif.

“Dalam performance ini saya memperlakukan sarung sebagai ruang kebudayaan yang menyimpan perjalanan hidup, pengetahuan, dan nilai-nilai masyarakat. Bagi saya, sarung adalah rahim ingatan—tempat pengalaman, kasih sayang, doa, dan harapan diwariskan secara sunyi dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” ujar Asia Ramli.

brbr
brbr
br