The Magic, Buku Ketika Menjadi Mantra Karya Rahman Rumaday

Oleh : Mulyati : (Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kabupaten Maros)_

_Saya Menangis dalam Setiap Shalat Setelah Membaca Ketika Kata Menjadi Mantra_

Maros, NusantaraInsight — Saya bukan orang yang pandai merangkai kata. Bahkan sampai hari ini saya masih kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya saya rasakan setelah membaca buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday. Rasanya, kata-kata tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam hati saya.

br

Yang saya tahu, sejak buku itu selesai saya baca, ada sesuatu yang berubah.

Perubahan itu saya rasakan setiap kali berdiri untuk shalat.

Entah mengapa, sejak takbir pertama, air mata saya selalu mengalir. Bukan karena sedang ditimpa masalah atau kesedihan, tetapi karena ada perasaan yang begitu kuat bahwa Allah benar-benar dekat. Sangat dekat.

Saya seperti merasakan kehadiran-Nya memenuhi dada saya.

Sulit menjelaskan pengalaman itu. Yang saya rasakan hanyalah hati yang tiba-tiba menjadi sangat lembut. Ada rasa tenang yang belum pernah saya alami sebelumnya. Dalam setiap bacaan shalat, saya seperti sedang berbicara langsung kepada Allah dengan seluruh isi hati saya.

Yang paling berat adalah ketika sampai pada sujud terakhir.

Berkali-kali saya tidak ingin mengangkat kepala dari sajadah. Rasanya saya ingin tetap berada di sana. Saya takut ketika bangun dari sujud, saya tidak lagi merasakan kedekatan yang begitu indah itu. Saya ingin lebih lama bersama Allah.

Sejak membaca buku itu, hampir setiap shalat saya menangis. Zuhur, Ashar, bahkan shalat-shalat berikutnya, air mata itu datang sendiri tanpa saya minta. Seolah ada sesuatu di dalam hati yang selama ini membeku, lalu perlahan mencair.
Saya merasa Allah begitu menyayangi saya.

Perasaan itu bukan datang dari logika, tetapi dari hati yang tiba-tiba dipenuhi rasa syukur, haru, dan kerinduan kepada-Nya.

Di tengah perjalanan membaca buku ini, saya juga terus teringat pesan almarhumah mama saya.

Beliau selalu berpesan agar saya tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jika ada orang yang menyakiti hati saya dengan kata-kata, jangan membalasnya. Serahkan semuanya kepada Allah.

Pesan itu selama ini saya ingat, tetapi setelah membaca buku ini, saya seperti benar-benar memahaminya.

Kalau ada yang membuat hati saya terluka, saya lebih memilih pergi ke masjid. Di sanalah saya menangis. Di sanalah saya mengadu. Saya merasa hanya Allah yang benar-benar memahami semua yang tidak mampu saya ceritakan kepada siapa pun.

brbr
BACA JUGA:  Utak Atik Ana Makassar Basar di Ambon
brbr
br