Buku ini juga membuat saya merenung tentang hidup saya sendiri. Saya berusaha mengingat, apakah selama ini saya pernah menyakiti hati orang lain dengan kata-kata. Setahu saya, saya selalu berusaha menjaga lisan. Namun buku ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya tentang menjaga ucapan kepada manusia, tetapi juga tentang terus membersihkan hati agar semakin dekat kepada-Nya.
Saya membaca buku ini dari halaman pertama hingga halaman terakhir tanpa melewatkan satu bagian pun.
Berkali-kali saya harus berhenti karena mata saya penuh air mata. Saya masuk ke kamar mandi hanya untuk membasuh wajah, lalu kembali melanjutkan membaca. Anehnya, setiap kali membuka halaman berikutnya, hati saya kembali bergetar.
Seolah-olah setiap kalimat sedang berbicara kepada diri saya sendiri.
Seolah-olah buku ini tidak sedang mengajarkan sesuatu, tetapi sedang mengajak saya pulang.
Setelah selesai membaca, saya mencoba menuliskan apa yang saya rasakan. Namun lagi-lagi saya menangis. Saya sadar, ada pengalaman yang memang tidak bisa diterjemahkan sepenuhnya oleh bahasa.
Bagi saya, Ketika Kata Menjadi Mantra bukan sekadar buku motivasi atau buku tentang menulis. Buku ini menjadi ruang perenungan. Ia mengajak saya melihat kembali hubungan saya dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan orang-orang di sekitar saya.
Saya percaya, setiap orang akan menemukan pengalaman yang berbeda ketika membaca buku ini. Tetapi bagi saya, buku ini telah menjadi jalan yang membuat saya kembali merasakan manisnya beribadah. Saya merasakan shalat bukan lagi sebatas kewajiban, melainkan sebuah perjumpaan yang selalu saya rindukan.
Mungkin itulah yang paling sulit saya jelaskan.
Buku ini tidak hanya saya baca dengan mata.
Buku ini saya rasakan dengan hati.
Dan sejak saat itu, setiap sujud terasa lebih panjang, setiap doa terasa lebih dekat, dan setiap air mata menjadi saksi bahwa Allah selalu memiliki cara yang indah untuk memanggil hamba-Nya kembali.
Maros, 20/7/2026


br
br
br






br
br






br