Wiah, Si Bunga Desa

Catatan hati : Mulyati

Hari-hari pertama Wiah di kampung suaminya terasa sangat berat.

Peralihan dari masa kanak-kanak ke dunia berkeluarga tidaklah mudah. Terlebih lagi, suasana keluarga, lingkungan, dan adat istiadat… semuanya sangat berbeda.

br

Wiah harus belajar memasak, mencuci, menyapu, menyiapkan sarapan.
Semua pekerjaan ini belum pernah ia jalani. Maklum saja, selain Wiah masih kanak-kanak, Wiah juga anak Gallarang, pekerjaan rumah bukanlah menjadi tugasnya dulu.

Namun, sebagai anak yang berbakti, anak yang penurut, Wiah selalu berusaha menyesuaikan diri.
Ia belajar tanpa pernah mengeluh. Tak banyak bertanya.
Hanya terus melihat, dan melakukan hal-hal yang mampu ia kerjakan.

Tapi ada satu hal yang tak bisa ia sembunyikan.

Setiap pagi, ketika ia melihat anak-anak sekolah lewat di depan rumahnya…
Air matanya mengalir. Hatinya menangis.
Wiah menangis tanpa suara.

Ia mengenang kembali masa-masa indah di kampungnya dulu.
Setiap pagi berjalan bersama, bahkan kadang berlomba dengan teman-temannya.
Siapa yang paling cepat sampai di sekolah.
Mereka belajar bersama, bercanda, dan main bersama.

BACA JUGA:  Pameran Tunggal “Morning View” Alan Tola : Menafsir Abstraksi Kontemplatif Dan Imaji Simbolik

Kini, semua itu harus ia lupakan.
Ia harus belajar melaksanakan tugas rumah tangga.

Rasa rindu pada ayah dan ibunya. Pada keluarganya.
Pada nenek dan kakeknya yang sangat sayang padanya…
Hanya bisa mengalir bersama air mata tanpa suara.
Air mata kerinduan yang tak bertepi.

Dua tahun berlalu.

Wiah merasakan ada kelainan pada badannya.
Sakit kepala, mual, dan pusing.
Ia hanya bisa menangis. Ingin rasanya lari ke dalam pelukan ibu.
Namun sayang… tak ada alat komunikasi. Tak ada handphone.
Hanya bisa menunggu pedagang yang mungkin singgah di kampungnya.
Dan itu pun Wiah tidak tahu harus bertanya ke mana.

Dalam keadaan lemas, suaminya memanggil “dukun ” di kampung itu.
Dan ternyata… Wiah sedang hamil. Buah hati pertama.

Wiah semakin sedih. Ia ingin bersama ibunya.
Tapi ia hanya bisa pasrah. Menjalani dengan ikhlas.
Hanya doa. Hanya tangis di penghujung malam… yang mampu menenangkan hatinya.

Namun di balik sedih itu, Wiah bersyukur.
Ia akan menjadi seorang ibu.
Ia berjanji dalam hati: _”Aku akan memberikan yang terbaik untuk anakku, buah hatiku.”_

BACA JUGA:  Ayo Bergabung dalam Karya Kolektif...!, IPMI Mengundang Menulis Cerpen Religi, ini Tema dan Syaratnya

Waktu berlalu begitu cepat.

Si buah hati pun lahir. Seorang bayi laki-laki.
Mungil, gagah, dan tampan.
Kegembiraan itu tak ingin Wiah lewatkan.

Kedua orangtuanya pun datang.
Rasa bahagia itu tak bisa Wiah gambarkan.

Bayi ganteng itu diberi nama Hajuddin yang artinya: _”Yang memuliakan agama.”_

Sejak kelahiran anak pertamanya, tugas Wiah sebagai ibu rumah tangga bertambah.
Di samping mengurus rumah, ada bayi yang butuh perhatian lebih.

brbr
brbr
br