Akhir Sebuah Bab, Awal Jejak Baru Mahasiswa Magang Departemen Sastra Unhas

NusantaraInsight, Makassar — Dalam nuansa hangat dan penuh kekeluargaan, penarikan mahasiswa magang dari Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang digelar di Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis, 3 Juli 2025, menjadi momen reflektif sekaligus emosional.

Dihadiri langsung oleh Kepala Balai Bahasa, Toha Machsum, M.Ag., beserta staf teknis, kegiatan ini bukan sekadar seremoni penutup, melainkan sebuah perayaan kecil atas persinggungan antara dunia akademik dan praktik kebahasaan yang sesungguhnya.

Suasana ruangan Balai terasa hangat oleh percakapan santun, tawa ringan, dan ekspresi bangga dari para pembimbing yang telah menyaksikan tumbuhnya ketekunan dan kecintaan mahasiswa terhadap dunia bahasa.

Dalam sambutannya, Toha Machsum menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan lembaga kebahasaan dalam menjaga warisan bahasa serta membentuk generasi baru yang peka terhadap dinamika budaya.

Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para mahasiswa selama menjalani magang, sembari berharap pengalaman ini menjadi fondasi kokoh dalam perjalanan intelektual mereka ke depan. Momen perpisahan ini pun tak hanya menjadi akhir dari masa magang, tetapi juga awal dari relasi yang lebih luas dan penuh makna antara kampus dan Balai Bahasa, yang terus bersinergi demi kemajuan kebudayaan di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Mahasiswa KKN-T Gelombang 113 Unhas di Desa Patalassang, Kecamatan Sinjai Timur, Bikin Titik Koordinat UMKM

Dr. Sandra Safitri Hanan, M.A.,staf teknis Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, menyampaikan kesan mendalam terhadap kehadiran para mahasiswa magang yang selama empat bulan terakhir ikut serta dalam dinamika kerja lembaga.

Ia menyebut para mahasiswa sebagai “benih-benih bahasa” yang tumbuh dengan gairah belajar dan semangat berkarya.

“Kami menyaksikan sendiri, mereka berempat tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga pelaku yang terlibat aktif dalam pelestarian dan pemajuan bahasa. Itu sesuatu yang membahagiakan,” ungkapnya dengan senyum penuh kehangatan.

Di tempat terpisah, Ketua Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof.Dr. Hj. Gusnawaty, M.Hum., menekankan bahwa kolaborasi seperti ini bukan sekadar praktik akademik semata, melainkan ruang pertemuan antara idealisme kampus dan kerja kebahasaan yang nyata.

Ia berharap agar hubungan ini terus diperkuat dalam jangka panjang, karena menurutnya, transformasi dunia kebahasaan ke depan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan budaya.

“Mereka datang sebagai mahasiswa, dan pulang membawa misi,” tutupnya lirih, seakan memberi restu atas perjalanan baru yang akan ditempuh para peserta magang tersebut.

BACA JUGA:  Kuliah Perdana STIBA Makassar Kupas Peran Umat Islam Dalam Menentukan Arah Politik Bangsa

Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S., M.Hum., selaku dosen pendamping magang dari Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, menyampaikan apresiasi mendalam atas kesempatan belajar yang diberikan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurutnya, pengalaman magang ini ibarat “ruang aksara hidup” mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi turut merasakan denyut kerja kebahasaan secara langsung.

“Di Balai ini, mahasiswa belajar bahwa bahasa bukan sekadar objek studi, tetapi napas kebudayaan yang harus dirawat dengan kepekaan dan cinta,” ujarnya.

Ia pun berharap agar kolaborasi antara kampus dan Balai Bahasa terus tumbuh, melahirkan generasi yang tidak hanya literat, tetapi juga berjiwa pelestari.

Salamawati Mansyur, mewakili ketiga rekannya—Salma Samrah, St. Aisyah, dan Firda—mengungkapkan bahwa masa magang di Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan telah menjadi tapak awal yang bermakna dalam perjalanan akademik dan batin mereka sebagai mahasiswa Sastra Daerah.