Makassar, NusantaraInsight — Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar, Prof. Dr. dr. Hj. Suryani As’ad, M.Sc., Sp.GK(K)., mengingatkan mahasiswa kedokteran agar menjadikan empat nilai pappaseng Bugis sebagai bekal dalam membentuk karakter dan menjalankan profesi dokter.
Keempat nilai tersebut adalah Mappaccing Ati, Mapaccing Lila, Mapaccing Watakkale, dan Mapaccing Pangkaukang.
Pesan itu disampaikan Prof. Suryani saat menjadi narasumber program dialog budaya Pappaseng ri Elompugi episode ke-19 di TVRI Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2026).
Program yang digagas Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., atau Prof. Andis, tersebut mengangkat tema “Pappaseng tentang Silaturahim, Merawat Ingatan dan Menjaga Hubungan”.
Selain Prof. Suryani, dialog menghadirkan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. H. Wahyuddin Hakim, M.Hum., dan Dekan Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd.
Prof. Andis hadir sebagai narasumber utama sekaligus penggagas program. Dialog dipandu Eric Alamsyah, sedangkan pelaksanaan kegiatan digerakkan Dr. Muhammad Akhir, M.Pd., bersama tim.
Empat Nilai Pappaseng untuk Mahasiswa Kedokteran
Dalam pembahasannya, Prof. Suryani menekankan bahwa pendidikan kedokteran tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan medis.
Mahasiswa kedokteran juga perlu memiliki karakter yang baik, hati yang bersih, tutur kata yang santun, serta sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai kemanusiaan.
Nilai pertama, Mappaccing Ati, berarti memiliki hati yang bersih dan suci.
Bagi calon dokter, nilai ini berkaitan dengan ketulusan dalam melayani pasien, kejujuran, serta kepedulian terhadap orang lain.
Nilai kedua, Mapaccing Lila, berarti menjaga tutur kata agar sopan dan dapat diterima dengan baik oleh orang lain.
Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi yang santun menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara dokter, pasien, dan keluarga pasien.
Nilai ketiga, Mapaccing Watakkale, berarti menjaga kebersihan diri.
Nilai tersebut sejalan dengan prinsip kesehatan yang menekankan pentingnya kebersihan pribadi dan perilaku hidup sehat.
Sementara nilai keempat, Mapaccing Pangkaukang, berarti menjaga kebersihan sikap dan perilaku.
Nilai ini berkaitan dengan integritas, etika, dan tanggung jawab seseorang dalam menjalankan tugasnya.
Melalui empat nilai tersebut, Prof. Suryani mengharapkan mahasiswa kedokteran dapat tumbuh menjadi tenaga medis yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian luhur.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kearifan lokal Bugis dapat menjadi salah satu landasan pembentukan karakter dan etika profesi kedokteran.
Prof Andis Angkat Pappaseng tentang Silaturahim
Mengawali dialog, Prof. Andis menyampaikan pesan leluhur Bugis yang mengandung makna pentingnya menjaga ingatan dan hubungan baik antarmanusia.
“Sengeka simata jarung kubali sengetokki sipupureng lino.”
Ungkapan tersebut memiliki makna, “Kenanglah daku seruncing mata jarum, maka akan kuingat dan kukenang sepanjang hidup.”
Pesan tersebut menjadi pengantar pembahasan mengenai silaturahim, merawat ingatan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Prof. Andis yang juga Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sulawesi Selatan menghadirkan program Pappaseng ri Elompugi sebagai ruang untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat Bugis-Makassar.
Melalui dialog tersebut, pesan-pesan leluhur dibahas dari berbagai disiplin ilmu agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.












