Akhir Sebuah Bab, Awal Jejak Baru Mahasiswa Magang Departemen Sastra Unhas

“Di tempat ini, kami tidak hanya belajar tentang struktur dan kebijakan kebahasaan, tetapi juga menyelami makna dari menjaga dan menghidupkan bahasa sebagai wujud cinta pada budaya,” tuturnya dengan mata berbinar.

Ia menyebut Balai Bahasa sebagai ruang sunyi yang penuh gema, tempat suara-suara minor dari kearifan lokal diangkat dan diberi tempat terhormat.

“Kami pulang dengan bekal yang tak tertulis di modul perkuliahan, bekal tentang keikhlasan bekerja, tentang nilai, dan tentang tanggung jawab sebagai generasi penjaga bahasa,” tambahnya lirih, seolah menyulam pengalaman itu menjadi puisi yang tak akan lekang dalam ingatan.

Penarikan mahasiswa magang ini bukanlah sebuah titik akhir, melainkan jeda penuh makna, sebuah koma yang membuka ruang bagi kelanjutan kisah di medan bahasa dan budaya.

Dari ruang-ruang tenang Balai Bahasa, mereka kembali dengan tangan berisi pengalaman, dan hati yang dipenuhi semangat untuk merawat jejak leluhur melalui kata-kata.

Lembar-lembar laporan yang mereka tulis bukan sekadar bukti kerja, melainkan narasi kecil dari cinta yang tumbuh terhadap bahasa ibu, cinta yang tak lantang, namun bekerja dalam diam, menjelma tekad.

BACA JUGA:  LPPAR Wahdah Islamiyah Gelar Program Literasi Al-Qur'an di SLBN 1 Bulukumba

Di balik kesunyian itulah, sebuah generasi pelestari sedang bertunas, menyulam aksara menjadi cahaya, dan menjadikan warisan bahasa sebagai lentera di jalan panjang kebudayaan.