Makassar, NusantaraInsight — Mahasiswa administrasi publik yang biasanya mengkaji birokrasi, dan bagaimana lembaga negara bekerja secara efisien, transparan, dan akuntabel, ternyata juga punya potensi seni yang besar. Begitulah yang tampak pada sejumlah mahasiswa Jurusan Administrasi Publik yang mengikuti Workshop Lukis, di Ruang Belajar Bantaran, Kampung Kaledupaya, Desa Taeng, Kabupaten Gowa, 16-18 Oktober 2026.
Mereka tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya Ihya Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi (ITBA) Al Gazali, Kabupaten Barru.
Kampus yang dahulu bernama STIA Al Gazali Barru, kini punya tiga Prodi S1, yakni Administrasi Publik, Bisnis Digital, dan Sistem Informasi. Kampus yang dipimpin Rektor Prof. Dr. H. Kamaruddin Hasan, M.Pd inj, juga sudah membuka S2 Magister Administrasi Publik.
“Ihya itu dari bahasa Arab, artinya hidup. Diksi ini diambil dari salah satu kitab Imam Al Gazali Ihya Ulumuddin,” jelas A Arifay Yusuf, M.Pd, Pembina UKM Seni Budaya Ihya.
Spirit ini, kata A Arifay Yusuf, hendak menegaskan pentingnya berkesenian dengan mengangkat nilai-nilai estetika tanpa mengabaikan nilai etika.
Ketua UKM Seni Budaya Ihya, Dhani Anugrah, menambahkan bahwa ada aspek keagamaan yang jadi fondasi UKM seni yang berdiri sejak 23 September 2013 itu.
Pada logo dengan 5 garis merah dan tulisan aksara Lontarak itu, menggambarkan Rukun Islam dan Rukun Iman.
“UKM Seni Budaya Ihya ITBA Al Gazali Barru, sesuai motonya adalah Simpanua Ruang Menakar Diri,” terangnya.
Sebagai UKM seni, perekrutan anggota dilakukan melalui Workshop Art yang diadakan setiap tahun pada libur semester ganjil.
Kemudian lanjut dengan pembinaan, sesuai cabang seni setiap divisi. Ini sebagai persiapan pentas perdana, guna memenuhi syarat dikukuhkan sebagai anggota baru.
Pada kegiatan Workshop Seni di Ruang Belajar Bantaran yang dikelola perupa AH Rimba, hadir enam peserta, masing-masing Inna’, Athul, Ica, Lia, Indah, dan Dede’.
Mereka didampingi pengurus UKM Seni Budaya Ihya, yakni Dani selaku Ketua Umum, dan Fadil sebagai kru pada kegiatan workshop lukis.
Pembina dan pendamping juga turut membersamai, yaitu A. Arifay Yusuf, Risal Trimawan, dan Suriani A.
Menariknya, mereka berkemah di lokasi kegiatan, dan punya dapur bersama, yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan selama dua hari.
Ruang Belajar Bantaran berada di tepi Sungai Jekneberang, di Dusun Kaledupaya. Beragam pepohonan tumbuh di kawasan ini. Ada rambutan, mangga, jeruk, jambu, sukun, dan berabagai pohon yang menghadirkan suasana hijau dan sejuk, terutama di sore hari.
Pendekatan melukis di luar ruang ini dinilai positif. Karena selama proses pasca Worshop Art, aktivitas melukis ini menjadi wadah perekrutan anggota baru. Mereka dituntut harus berkarya untuk persiapan pameran pada pentas perdana.
Ketika ditanya, alasan Ruang Belajar Bantaran dipilih untuk melukis on the spot? A Arifay Yusuf bilang bahwa Ruang Belajar Bantaran merupakan salah satu tempat yang sangat nyaman untuk melukis.
“Bukan hanya tempat saja yang menjadi tujuan melukis, tetapi juga silaturahim dan belajar langsung kepada seniman lukis yang akrab kami panggil kak Rimba,” jelas pekerja seni yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Kasumba itu.
Diakui bahwa di Barru, mereka belum banyak tahu tentang dunia lukis dan masih kurang antusias berkarya. Sehingga di Ruang Belajar Bantaran, mereka lebih serius berkarya, serta memahami berbagai aspek tentang seni lukis.
Rimba sebagai tuan rumah menyambut gembira mahasiswa asal ITBA Al Gazali ini. Dia berbagi semangat berkesenian, dengan mengajak mahasiswa Jurusan Administrasi Publik itu berkolaborasi, dan saling belajar, dengan komunitas-komunitas lain, sebagai ekosistem seni.












