Sekilas Andi Pasamangi Wawo : TAK GENTAR WALAU PERNAH DIKEROYOK DAN DITIKAM

Andi Pasamangi Wawo
Andi Pasamangi Wawo ketiga dari kiri

“Kau simpan saja itu cek dan jangan belanjakan. Kalau kau tidak beritakan, kau juga saya tangkap”, tutur Om saya di Laksus sembari menyuruh anak buahnya fotokopi.

Ketika berita naik cetak pejabat itu mati mendadak mungkin karena ketakutan. Menurut info, katanya, akibat serangan jantung.

Seminggu kemudian, Andy, panggilan akrabnya di”kerjai” sejumlah preman saat ngopi di perempatan Jalan Sumba dan Irian.

Untung katanya, latihan beladirinya mengajarkan agar selalu waspada. Termasuk, memilih tempat duduk di sudut saat sendiri sebagai perisai serangan dari belakang dan samping.

Ada pengeroyok babak belur dihantam pakai kursi kayu (Bangko2, ciri khas kursi dulu di warkop). Ada juga dilempari gelas dan toples gula.

“Saat saya mengejar seorang penikam yang saya elakkan dengan membalikkan meja, satu di antaranya menikam saya dari belakang. Syukur hanya tergores karena saya lari cepat mengejar pelaku ke Pusat Pertokoan Pasar Sentral,” kisahnya

“Dengan sedikit merasa perih akibat goresan badik, saya lanjut melapor ke Polsek Wajo dengan menyerahkan baju yang sobek sobek” tambah Andi Pasamangi Wawo yang mengaku masa itu, dia Pelatih beladiri silat kuntauw dan pemegang sabuk coklat di Yudo Yuyitsu Karate (YYK) Bharata Yudha ‘milik’ alm. Albert Robert Samar (sekarang Inkado) di bawah bendera FORKI.

BACA JUGA:  Perempuan Berdaya Bukan Cuma Bekerja, Tapi Jadi Ibu

“Saya kakak letting Wasit Nasional Karate Ki Yani Mahdi,” ucapnya meyakinkan.

Besoknya, koran harian Pedoman Rakyat dan Tegas memberitakan kejadian itu, hingga, katanya, Dantabes Makassar, alm. Kolonel Polisi Andi Abd Rahman perintah anggota Team Khusus Anti Bandit (TEKAB) segera mencari dan menangkap pelaku.

Tak ada sepekan, seorang pelaku yang menikam ditangkap. Menurut info, dia seorang pembunuh bayaran dari Surabaya tapi berasal dari kota Makassar.

“Ketika dipertemukan di ruang Pemeriksa, pelaku malah balik menuduh saya mabuk. Beda barang bukti pecahan gelas dan toples yang sudah diamankan petugas di TKP,” kenangnya sambil menambahkan, dia juga pernah dikeroyok di depan rumahnya karena memberitakan ‘ulah oknum’ Polisi yang gerebek penjudi dan balapan liar dibantu sejumlah preman sebagai ‘peluncur’ untuk kepentingan pribadi.

“Alhamdulillah, Tuhan melindungi saya tak apa apa ketika dikeroyok. Dan oknum itu jalani hukuman disiplin sekalipun mengelak bahwa dia salah sasaran.

“Saya maafkan alasan kekhilafannya dengan syarat harus minta maaf pada keluarga, tetangga dan organisasi profesi saya secara tertulis”, senyumnya sambil meyakinkan para yunior di depannya bahwa demi kebenaran, dirinya tak pernah gentar melaksanakan tugas kewartawanan.
* * *
JUARA I LOMBA MENULIS

BACA JUGA:  Bangun Wacana Publik dari Koran Hingga Televisi

“Masih adakah nostalgia lainnya yang takkan terlupakan”, tanya teman lainnya.

“Saya pernah Juara lomba menulis yang pesertanya dari kalangan Mahasiswa, Akademisi, Tokoh masyarakat, Penulis dan Wartawan dalam rangka Hari Pers Nasional,” akunya.

Juara yang tak pernah terbayangkan, katanya, karena awalnya tak berniat ikut. Apalagi siangnya tidak turut meninjau lapangan obyek lomba bertema ” “Makassar kota Bersinar” dan “Pewilayahan Komoditas di Sulsel” yang dimulai sore, ba’da fardhu Ashar.

Menurutnya, saat itu motor CB ‘Gelatik’nya masuk bengkel. Jadi, takut tak dapat angkot pulang. Karena, lewat magrib tak ada lagi ‘pete pete’ ke Antang dari Tello.

Ketika berbenah mau pulang, dompetnya tercecer. Mungkin, curiganya, dia kecopetan waktu ke toko Akai ‘cuci mata’ depan Balai Wartawan di kawasan Pantai Losari.

Andy melihat ke arah peserta yang lagi berjibaku diiringi suara mesin ketik bertalu talu. Di sana ada tetangga. Namanya, Asli Kusuma Wartawan Harian sore, Tegas.
Dia lalu mendaftar ke Panitia. Padahal, sudah menjelang Magrib.