Pramuka 65 Tahun: Dari Kecakapan Lapangan Menuju Kemandirian Pangan Digital

Tanda kecakapan tidak semestinya hanya membuktikan bahwa anggota mengetahui sesuatu, tetapi bahwa ia mampu menerapkannya untuk membantu orang lain.

Pada usia ke-65, Pramuka harus tampil sebagai gerakan yang berakar kuat sekaligus bergerak cepat. Setangan leher, api unggun, dan perkemahan tetap menjadi identitas, tetapi dampaknya harus hadir di kebun, desa, kampus, ruang digital, dan meja makan masyarakat.

Generasi digital native tidak membutuhkan Pramuka yang hanya bernostalgia. Mereka membutuhkan Pramuka yang menantang, relevan, terbuka terhadap teknologi, dan konsisten membentuk karakter.

Inilah saatnya membuktikan bahwa Praja Muda Karana benar-benar berarti orang muda yang suka berkarya.

Dengan kreativitas, inovasi, keterampilan, kemandirian, dan pengabdian, Pramuka dapat melahirkan generasi yang bukan hanya cepat mengikuti perubahan, tetapi juga mampu mengarahkan perubahan untuk memperkuat swasembada pangan dan kedaulatan bangsa. (*)

BACA JUGA:  Helm, Solidaritas Sosial, dan Demonstrasi