“Sentilan” Menteri Dalam Negeri

Hampir semua sektor pada triwulan I 2025 mengalami pertumbuhan positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian serta sektor kontruksi, bahkan sektor pertanian sebagai pilar utama perekonomian NTB dengan share sebesar 23,24% mengalami pertumbuhan sebesar 10,28%.

Berikut penjelasan faktor-faktor kunci pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2025 mengalami kontraksi signifikan akibat:

1. Pertumbuhan ekonomi sektor tambang mengalami penurunan sebesar (-30,14%) pada triwulan I 2025 disebabkan penurunan produksi:
a. Implementasi hilirisasi
b. Adanya pembatasan ekspor konsentrat mentah pada awal tahun 2025
c. Kapasitas penyimpanan terbatas, smelter hanya bisa menampung 300ribu ton sehingga yang bisa diolah hanya sebesar 300 ribu ton, hal ini menyebabkan perlambatan produksi secara secara keseluruhan
d. Smelter baru masih dalam proses commision atau peningkatan kapasitas, sehingga belum mampu menyerap seluruh hasil tambang
e. Pada saat ini PT AMNT masuk pada tahap 8 di mana kandungan emas dan tembaga masih relative rendah

2. Efek dari larangan ekspor konsetrat tembaga menyebabkan ekspor NTB mengalami penurunan sebesar -41,05%
Ekspor luar negeri tercatat sebesar 17,45 juta USD pada triwulan I-2025 mengalami penurunan yang
cukup dalam dibandingkan dengan triwulan I-2024 yang tercatat sebesar 573,33 juta USD.

BACA JUGA:  Memandang R. Eko Wahono dari Catastrophe

3. Sektor kontruksi mengalami pertumbuhan negatif sebesar -1,52% disebabkan realisasi belanja modal pemerintah pada triwulan I-2025 belum berjalan

4. Pada saat yang sama, Inpres No 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Pemerintah mendorong pengetatan belanja operasional, yang dalam jangka pendek menahan laju perputaran fiskal daerah. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan sektor ekonomi terkait mengalami hambatan diantaranya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum seperti Hotel dan Restoran serta transportasi.

Terdapat prospek positif yang dapat memicu pemulihan ekonomi:

1.Produksi katoda tembaga mulai dilakukan di smelter sebagai hasil hilirisasi, berpotensi meningkatkan ekspor produk olahan.

2.Efek dari hilirisasi tembaga diharapkan memunculkan industri hilir seperti industri kabel, industri pupuk dari hasil sampingan produksi tembaga yang tentunya akan memacu perekonomian daerah.

3.Perdagangan dalam negeri yaitu asam sulfat yang dikirim dari NTB pada Maret 2025 sebesar 37.602 ton ke Gresik. Asam sulfat merupakan produk sampingan yang bernilai ekonomi (misalnya untuk pupuk atau industri kimia) dari proses pengolahan bijih logam di smelter.

BACA JUGA:  BPSDMD Sebagai Center of Expectation

4.Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menciptakan permintaan besar terhadap produk pangan lokal, memacu perputaran dana pada sektor transportasi terkait distribusi MBG.

5.Efek multiplier dari MBG akan meningkatkan uang beredar di masyarakat, uang belanja konsumsi masyarakat yang awalnya dialokasikan untuk makan dapat dialihkan menjadi konsumsi lainnya.

6.Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian sebesar 10,28% pada triwulan I 2025 dipicu peningkatan produksi jagung di NTB. Pertumbuhan sektor pertanian ini merupakan pertumbuhan tertinggi selama 4 tahun terakhir. Sektor tersebut menyerap tenaga kerja di NTB sebesar 32,50% (Februari 2025).

Peningkatan produksi padi dan jagung sebagai sinyal kesiapan sektor pangan. Total potensi produksi pada triwulan I 2025 diperkirakan mencapai 395,65 ribu ton GKG atau mengalami peningkatan sebesar 141,09 ribu ton GKG (55,43%) dibandingkan produksi padi pada triwulan I 2024 yang sebesar 254,56 ribu ton GKG. Selain padi, komoditas jagung juga mengalami pertumbuhan produksi yang signifikan. Peningkatan signifikan ini salah satunya disebabkan karena pergeseran musim panen, dimana tahun ini panen sudah mulai pada bulan Maret.