Dari Keterampilan Menjadi Peluang Usaha, SMK Kristen Harapan Rantepao Bangun Jiwa Entrepreneur Siswa melalui Bisnis TendaTa

Nusantarainsight, Rantepao,– SMK Kristen Harapan Rantepao terus menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang kejuruan, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Program Proyek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar membangun dan menjalankan usaha secara nyata.

Salah satu kelompok yang saat ini menjalankan program tersebut adalah Kelompok Kewirausahaan Pembuatan dan Penyewaan Tenda Besi, dengan nama bisnis TENdATA (TendaTa) dan tagline “TendaTa untuk Solusi Acara Anda.”

TendaTa merupakan usaha rintisan siswa yang bergerak di bidang pembuatan dan penyewaan tenda besi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan dan acara. Usaha ini memanfaatkan kompetensi keahlian siswa, khususnya Teknik Pengelasan, untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomis.

Menariknya, TendaTa bukan sekadar proyek praktik keterampilan, melainkan sebuah proses pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi teknis dengan kemampuan mengelola bisnis. Siswa terlibat dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari mengidentifikasi peluang pasar, merancang produk, menghitung kebutuhan bahan dan biaya produksi, proses pembuatan tenda, menentukan harga, hingga merencanakan strategi pemasaran dan pelayanan pelanggan.

BACA JUGA:  Hj. Juhrah jadi Irup Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan ke-80 di SMK 1 YPLP PGRI Makassar

Melalui proses tersebut, siswa belajar bahwa keterampilan yang diperoleh di sekolah dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang berpotensi menghasilkan pendapatan dan membuka lapangan kerja.

Kepala SMK Kristen Harapan Rantepao, Agustinus Palimbong, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan kelompok kewirausahaan seperti TendaTa merupakan salah satu langkah konkret sekolah untuk mengubah pola pikir peserta didik, dari sekadar mempersiapkan diri mencari pekerjaan menjadi pribadi yang mampu menciptakan pekerjaan.

“Harapan kami, anak-anak tidak hanya tamat dengan membawa ijazah dan sertifikat kompetensi, tetapi juga memiliki keberanian, kreativitas, dan kemampuan untuk membangun usaha. Kami ingin mereka menyadari bahwa keterampilan yang dipelajari di sekolah merupakan modal untuk menciptakan peluang ekonomi. Melalui TendaTa, mereka belajar bahwa sebuah usaha dapat dimulai dari keterampilan sederhana yang dikembangkan secara serius, dikelola dengan baik, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran kewirausahaan harus memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Oleh karena itu, sekolah terus mendorong agar setiap kelompok kewirausahaan memiliki produk atau layanan yang jelas, sasaran pasar, perencanaan usaha, serta peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  Unismuh Makassar Kembali Teken Kerjasama dengan Kabar Makassar

Dalam pengembangan program ini, SMK Kristen Harapan Rantepao juga membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan pemerintah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui penjajakan kemitraan bisnis murid (Business Matching) bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah.

Kemitraan tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi kelompok kewirausahaan siswa untuk memperoleh pendampingan, penguatan manajemen usaha, akses pemasaran, serta peluang kerja sama bisnis.

Dengan demikian, produk dan jasa yang dikembangkan siswa tidak hanya menjadi hasil tugas pembelajaran, tetapi memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi usaha produktif yang dapat melayani kebutuhan masyarakat.

Pengembangan TendaTa menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan SMK harus mampu menjawab tantangan zaman. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga perlu membangun karakter mandiri, kreatif, inovatif, komunikatif, mampu bekerja sama, dan berani mengambil peluang.