Sebagai penutup, tragedi kematian 11 penambang dan pembakaran sekolah di Papua harus menjadi titik balik bagi pemerintah Indonesia dan komunitas internasional untuk mengevaluasi ulang paradigma yang selama ini digunakan dalam menangani konflik Papua. Pendekatan keamanan yang represif terbukti gagal, sementara pendekatan pembangunan yang eksklusif hanya memperdalam luka sosial dan ketimpangan ekonomi. Dunia internasional memiliki tanggung jawab moral untuk mendesak perubahan, bukan demi memecah belah Indonesia, tetapi demi menjamin bahwa prinsip keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan berlaku untuk semua, termasuk rakyat Papua.
Insiden Kematian 11 Penambang dan Pembakaran Sekolah di Papua
Rekomendasi untuk kamu

Kedua, terapkan standar komunikasi yang sensitif terhadap trauma. Petugas perlu menjelaskan tahapan perkara dengan bahasa sederhana, memberi tahu perubahan penting, menjaga privasi, dan menghindari pertanyaan yang menyalahkan atau merendahkan korban….

Mahar, bagi sebagian orang, mungkin hanya benda yang diberikan ketika pernikahan berlangsung. Sesuatu yang dicatat, diserahkan, lalu disimpan di lemari atau kotak kenangan. Namun, bagi saya, mahar-mahar itu bukan sebatas…

Kisah ini merupakan gambaran tentang seseorang yang mungkin miskin menurut ukuran material dunia, tetapi memiliki peluang besar menjadi kaya dalam timbangan amal akhirat. Kita tidak berwenang memastikan kedudukan seseorang di…

Belum lagi waralaba lokal, semisal Kopi Sija, Komar, Kaori Coffee, Warkop Azzahrah, atau nama-nama coffee shop yang akrab dengan milenial dan Gen Z. Masing-masing dari kedai kopi punya target marketnya…

Kepemimpinan strategis pada akhirnya menuntut perubahan orientasi: dari sekadar memerintahkan hasil menjadi membangun sistem yang memungkinkan hasil dicapai secara benar. Dari target angka menuju kualitas penegakan hukum Salah satu pesan…







