Namun, tema lagu kritik sosial dari penyanyi bernama asli Virgiawan Listanto itu relevan dengan janji politik pendidikan dan kesehatan gratis, yang menjadi salah satu program unggulan Sayang saat kampanye. Pasangan Sayang memimpin Sulawesi Selatan dua periode (2008-2013, dan 2013-2018).
Saya ingat, pernah pula Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unhas, dan PSM UNM, tampil di gubernuran, saat upacara 17an. Mereka perform lagu-lagu daerah yang diaransemen secara kreatif dan dinamis, sehingga membuat tetamu yang hadir tak henti-hentinya memberikan aplaus.
Prosesi penaikan sang dwiwarna, yang dilakukan oleh para pelajar yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), selalu menarik perhatian. Dalam balutan seragam putih-putih, langkah mereka berderap, rapi, tegas, gagah, dan kompak. Itu kesan saya setiap kali melihat anak-anak paskibra menjalankan tugasnya.
Selesai upacara, ada pesta rakyat. Apalagi kalau bukan makan-makan, yang khas Indonesia: jagung rebus, ubi rebus, kacang rebus, dan menu lainnya. Buah-buahan seperti lengkeng, dan salak juga disediakan.
Mereka yang tadi hadir mengikuti upacara berbaur. Ada yang bercengkerama, atau sekadar salaman dan foto bersama. Kesempatan langka bisa bertemu dengan para tokoh lintas generasi, dan dari berbagai kalangan dan profesi.
*Beda saat Penaikan dengan Penurunan*
Menghadiri upacara HUT Proklamasi di gubernuran, kami diatur oleh protokol. Begitu datang, tamu-tamu diarahkan pada kursinya masing-masing. Tamu-tamu VIP punya posisi duduk tersendiri.
Sebagai komisioner, posisi saya di deretan ketiga. Pada saat penaikan bendera, dapat dipastikan semua undangan hadir. Bahkan ada yang datang dengan pasangannya. Jadi, boleh dikata, tak ada kursi yang kosong.
Beda dengan saat penurunan bendera. Kursi-kursi yang diberi label nama sebagai penanda, terkadang tidak ada orangnya, alias kosong. Jadi kita boleh bergeser, pilih tempat duduk. Meski begitu, saya tetap menjaga adab, paling hanya maju satu deret, biar agak dekat dan pandangan luas.
Di tengah suasana menghadiri peringatan HUT Kemerdekaan RI ini, saya bisa melihat dan bertemu tokoh-tokoh pejuang. Mereka hadir dengan pakaian kebesarannya, lengkap dengan pangkat, lencana, dan bintang jasa yang diberikan negara.
Dua tokoh yang paling saya ingat, saat mengikuti upacara di gubernuran sebagai komisioner, yakni Brigjen TNI (Purn) H Andi Oddang Makka, dan Brigjen TNI (Purn) Bachtiar Karaeng Leo.
Andi Oddang punya perawakan lebih tinggi sedikit dibanding Bachtiar. Sebaliknya, Bachtiar secara fisik lebih gemuk. Keduanya tenang dan berwibawa. Selalu tampak keduanya menikmati betul rangkaian upacara yang diikuti.












