Selesai upacara, ada pesta rakyat. Apalagi kalau bukan makan-makan, yang khas Indonesia: jagung rebus, ubi rebus, kacang rebus, dan menu lainnya. Buah-buahan seperti lengkeng, dan salak juga disediakan.
Mereka yang tadi hadir mengikuti upacara berbaur. Ada yang bercengkerama, atau sekadar salaman dan foto bersama. Kesempatan langka bisa bertemu dengan para tokoh lintas generasi, dan dari berbagai kalangan dan profesi.
*Beda saat Penaikan dengan Penurunan*
Menghadiri upacara HUT Proklamasi di gubernuran, kami diatur oleh protokol. Begitu datang, tamu-tamu diarahkan pada kursinya masing-masing. Tamu-tamu VIP punya posisi duduk tersendiri.
Sebagai komisioner, posisi saya di deretan ketiga. Pada saat penaikan bendera, dapat dipastikan semua undangan hadir. Bahkan ada yang datang dengan pasangannya. Jadi, boleh dikata, tak ada kursi yang kosong.
Beda dengan saat penurunan bendera. Kursi-kursi yang diberi label nama sebagai penanda, terkadang tidak ada orangnya, alias kosong. Jadi kita boleh bergeser, pilih tempat duduk. Meski begitu, saya tetap menjaga adab, paling hanya maju satu deret, biar agak dekat dan pandangan luas.
Di tengah suasana menghadiri peringatan HUT Kemerdekaan RI ini, saya bisa melihat dan bertemu tokoh-tokoh pejuang. Mereka hadir dengan pakaian kebesarannya, lengkap dengan pangkat, lencana, dan bintang jasa yang diberikan negara.
Dua tokoh yang paling saya ingat, saat mengikuti upacara di gubernuran sebagai komisioner, yakni Brigjen TNI (Purn) H Andi Oddang Makka, dan Brigjen TNI (Purn) Bachtiar Karaeng Leo.
Andi Oddang punya perawakan lebih tinggi sedikit dibanding Bachtiar. Sebaliknya, Bachtiar secara fisik lebih gemuk. Keduanya tenang dan berwibawa. Selalu tampak keduanya menikmati betul rangkaian upacara yang diikuti.
Andi Oddang merupakan tokoh pejuang 45, yang pernah menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, periode 1978-1983. Sebagai militer, ia pernah berperan dalam penumpasan gerakan DI/TII dan PKI di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Bachtiar merupakan pejuang yang pernah bergabung dalam Laskar Pemberontak Turatea. Dalam karier kemiliteran sebagai perwira pada Batalyon Mattalatta, Bachtiar terlibat dalam penumpasan pemberontakan RMS. Beliau ikut pula memadamkan pemberontakan DI/TII.
Sebagai politisi, Bachtiar pernah duduk di Senayan, menjadi anggota DPR/MPR RI, antara tahun 1987 hingga tahun 1997.
Saya jadi teringat kata-kata Bung Karno, Bapak Proklamator, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. (*)












