Di Bawah Suasana #2 Urgensi Pemajuan Keislaman, Perempuan, Desa, dan Literasi

NusantaraInsight, Gowa — Sebuah rimbun bambu mengayunkan daun cerita. Ada yang berwarna coklat dan juga hijau. Sedang angin berhembus lembut, mengelus dedaunan bambu yang melambai-lambai di bawah langit Bontonyeleng. Siring Bambu, yang biasanya sunyi, kini dipenuhi suara tawa, bisik-bisik percakapan, dan alunan suara pengajian. Seperti aliran sungai yang tenang, suasana penuh kedamaian itu mengalir dari hati ke hati, membawa semangat kebersamaan di bawah tajuk acara Di Bawah Suasana #2. Tempat ini, dengan segala kesederhanaannya, menjadi saksi bagaimana komunitas kecil ini merayakan kebersamaan dalam semangat keislaman dan kisah-kisah perempuan desa yang seringkali terlupakan. Ujar Aedil Faizin sebagai nahkoda Siring Bambu.

Ustaz Maulana memulai dengan penuh ketenangan. Dalam lantunan suaranya, setiap kata terasa menggetarkan jiwa, menyentuh inti hati yang mendengarnya. Ia berbicara tentang pentingnya menumbuhkan semangat keislaman di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebulan penuh mengenang kelahiran Sang Nabi, yang tidak hanya menjadi teladan hidup, tetapi juga menginspirasi setiap langkah umatnya. “Bulan Maulid ini adalah kesempatan bagi kita untuk merenungi dan meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad yang penuh kasih dan kebijaksanaan,” ujar Ustaz Maulana, sembari mengajak para hadirin untuk mengingat kembali pesan-pesan luhur.

BACA JUGA:  KELAS MANAJEMEN RAMADHAN

Dengan suasana yang begitu intim, para hadirin—berbagai lapisan masyarakat dari desa sekitar—terbawa dalam kehangatan kebersamaan. Pengajian ini bukan sekadar ritual, tetapi ruang untuk saling mendekatkan hati dan pikiran, merajut kembali semangat keislaman yang kadang tergerus oleh rutinitas sehari-hari. Ibu Majlis Taklim desa Bontonyeleng dengan penuh antusias memberi selayang pandang mengenai keislaman dan perempuan. Baginya dua hal itu adalah cerminan kehidupan dengan kasih sayang. Sebagaimana islam selalu mengajarkan tentang cinta. Pun, pada diri perempuan terdapat cinta yang ingin diungkap oleh manusia. Sehingga, mari menumbuhkan semangat keislaman dan jiwa perempuan dalam desa.

Selepas pengajian, panggung kecil di bawah rimbunnya dedaunan bambu itu berganti pembicara. Kak Khaeria Ulfarani, sosok perempuan yang selama ini menjadi penggerak komunitas, berdiri dengan teguh. Wajahnya memancarkan ketegasan, namun senyumnya menyiratkan kelembutan yang mengayomi. Sebagai pendiri Perempuan Desa Official, ia berbagi kisah tentang perempuan-perempuan desa yang, meski terasing dari hiruk-pikuk kota, memiliki cerita-cerita yang sarat makna. “Perempuan desa bukan hanya penjaga dapur, tetapi juga penjaga kehidupan,” tuturnya. Ia menceritakan bagaimana perempuan-perempuan ini menjalani hidup di tengah keterbatasan, menjadi ibu sekaligus pahlawan bagi keluarga dan komunitasnya.

BACA JUGA:  INSERSI KURIKULUM ANTI-L6BTQ: SOLUSI PARSIAL DI TENGAH SISTEM YANG MELEGALKAN

Kisah-kisah yang dibagikan Kak Khaeria memukau para pendengar. Dengan nada bicaranya yang tenang namun penuh keyakinan, ia membawa hadirin ke dalam kehidupan perempuan-perempuan desa yang penuh dengan tantangan. Seperti sosok Ibu Asmi, seorang wanita yang telah berjuang melawan stereotip di desanya dan menjadi penggerak perubahan dengan membangun perpustakaan kecil untuk anak-anak. Atau kisah Ibu Sumiati yang dengan ketabahan luar biasa mempertahankan kearifan lokal dalam bercocok tanam, menjaga tanah leluhurnya dari tangan-tangan yang ingin mengubahnya menjadi lahan komersial.

“Perempuan Desa Bercerita,” program yang digagas oleh Kak Khaeria, menjadi platform bagi perempuan-perempuan ini untuk berbagi dan menguatkan satu sama lain. “Setiap kisah yang diceritakan adalah kekuatan, dan kita harus mendengarkannya,” katanya lagi, suaranya tegas meski matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Para hadirin, yang sejak tadi khidmat mendengarkan, terlihat mengangguk setuju. Ada sesuatu yang menggetarkan, ketika cerita-cerita ini disampaikan dengan penuh kejujuran dan ketulusan.