Di Bawah Suasana #2 Urgensi Pemajuan Keislaman, Perempuan, Desa, dan Literasi

Namun, acara ini tidak hanya berhenti di sana. Di sudut Siring Bambu, sebuah lapak buku yang sederhana namun penuh makna juga berdiri. Lapak ini adalah inisiatif Rumah Buku, sebuah komunitas literasi di Desa Bontonyeleng yang tak henti-hentinya menyebarkan semangat membaca di pelosok desa. Tumpukan buku dari berbagai genre, mulai dari literatur agama hingga cerita rakyat, tersedia bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan atau sekadar menikmati sejuknya suasana sore sambil membaca.

Lapak ini bukan sekadar tempat untuk membaca. Ia adalah ruang pertemuan gagasan, tempat di mana para pengunjung bisa berdiskusi tentang apa saja: dari nilai-nilai agama hingga isu-isu sosial yang dihadapi desa mereka. Di tengah tumpukan buku-buku itu, terselip semangat perubahan yang dimulai dari literasi, dari selembar halaman yang menginspirasi, hingga pembicaraan yang membangkitkan kesadaran.

“Rumah Buku hadir untuk membawa lebih dari sekadar bacaan,” ujar Musakkir Basri, salah satu penggerak komunitas tersebut. “Kami ingin literasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menjadi kekuatan yang memberdayakan setiap individu di desa ini.”

BACA JUGA:  KEBIJAKAN KESEHATAN DAN DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT MISKIN

Harapan kedepannya, semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang baru untuk orang desa belajar dan berbagi cerita. Kami juga memiliki rencana kedepannya kegiatan ini dapat bertumbuh secara organik. Menjadi ruang alternatif bagi siapa saja untuk berbuat dan menanam suasana. Sebab suasana hari memberi alarm baru untuk terus melangkah dan melanjutkan Di Bawah Suasana #3 nantinya. Ujar Aedil Faizin.

Semoga tak berhenti sampai di sini. Sampai bertemu Di Bawah Suasana selanjutnya.

Penulis: Musakkir Basri (Founder Rumah Buku)