Di Balik Peluncuran Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur” (4): Jika Datang Tegasnya, Tak Menyisakan Reserve

Balik Peluncuran Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur”
Balik Peluncuran Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur”

Menjadi pendamping sebagai Ketua Bappeda, agar berbeda “jangkauan kedekatan” dengannya. Tidak seperti waktu di Unhas sebagai Pembantu Rektor II yang selalu mendampingi di bidang administrasi.

Di pemerintahan, sebagai Ketua Bappeda, saya selalu membatasi diri di bidang perencanaan. Fachrudin tahu diri bahwa harus memberikan kemampuan maksimal dalam ruang lingkup yang terbatas pula.

Hal-hal seperti ini yang diinginkan dia, sehingga menarik Fachrudin. Mungkin Pak Amiruddin berpikir, karena di Unhas Fachrudin membantunya, maka dia merasa perlu dia ke perencanaan. Kebetulan, posisi tersebut sedang “kosong” karena Pak Parawansa menjadi Sekwilda. Jadi, waktu itu ada dua orang “ditarik”, Fachrudin dan Pak Burhamzah. Fachrudin sebagai Ketua Bappeda, sementara Burhamzah sebagai Direktur BPD.

Biasanya ada orang yang merasa cocok dalam satu tim untuk tahapan-tahapan tertentu dalam suatu kesempatan. Semacam “the winning team”, barangkali.

Begitulah kami ketika itu.’
Sepanjang ingatan Fachrudin, Pak Amiruddin tidak banyak mengarahkan harus “begini-begitu” karena langsung tahu misi yang mau dikerjakan.

Kami sudah terbiasa bekerja sama untuk pengembangan “segala macam” di Unhas, terutama waktu menyusun perencanaan kampus baru dan rencana induk kampus (RIK).

BACA JUGA:  Mappinawang, LPA Sulsel, dan Advokasi Perlindungan Anak

Bagaimanapun, itu adalah pengalaman perencanaan. Jadi, mungkin Pak Amiruddin beranggapan bahwa meskipun Unhas ruang lingkupnya kecil, namun setidaknya Fachrudin mempunyai pengalaman sedikit dalam menyusun perencanaan.

Fachrudin mengira, itu sebabnya, sehingga saya “dipanggil”. Padahal, sesungguhnya belum punya banyak pengetahuan tentang bidang perencanaan.

Seingatnya, sebelumnya keterlibatannya di bidang itu “hanya” ketika diikutkan dalam penyusunan Repelita I Daerah Tingkat Sulawesi Selatan. Waktu itu, Fachrudin sebagai dosen Unhas yang tergabung dalam “Panitia Sembilan”.

Pesannya saat Fachrudin “dipanggil” — meskipun tidak terdengar secara jelas — adalah agar Fachrudin menetapkan fungsi Bappeda untuk mendorong pertumbuhan pembangunan di Sulawesi Selatan. Ada kesan waktu itu bahwa Bappeda selalu menggunakan orang-orang yang “kurang berguna”. Jadi, sepertinya Bappeda itu, hanyalah sebagai tempat pembuangan. (Bersambung, MDA).